Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Jemparingan, Warisan Budaya Panahan Tradisional Yogyakarta
Jemparingan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Jemparingan, warisan budaya panahan tradisional asal Yogyakarta, telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Olahraga ini, yang awalnya hanya dilatih di kalangan keluarga Kerajaan Mataram, kemudian berkembang menjadi perlombaan di antara para prajurit kerajaan.
Jemparingan memiliki sejarah panjang yang tertanam dalam budaya Jawa.
Olahraga ini diyakini telah ada sejak era Kerajaan Mataram Islam, dan dulunya digunakan sebagai latihan bagi para prajurit untuk meningkatkan keterampilan memanah mereka.
Jemparingan juga memiliki makna filosofis yang mendalam, di mana pemanah diharapkan dapat mencapai keseimbangan antara fisik dan mental dalam proses memanah.
Jemparingan memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari olahraga panahan modern, di antaranya yakni pemanah jemparingan duduk bersila di atas tikar, dengan kaki dilipat di bawah tubuh.
Kemudian, pemanah tidak membidik target dengan mata, melainkan dengan merasakan arah dan jarak target.
Busur yang digunakan dalam jemparingan umumnya terbuat dari kayu, dan anak panahnya terbuat dari bambu.
Baca juga: Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 Tahun, Ada Sayembara Macapat dan Jemparingan Tingkat Nasional
Selain itu, pemanah jemparingan biasanya mengenakan pakaian tradisional Jawa, seperti beskap dan jarik.
Saat ini, jemparingan tidak hanya dilatih oleh para prajurit kerajaan, tetapi juga oleh masyarakat umum.
Banyak komunitas jemparingan yang didirikan di berbagai daerah di Yogyakarta, dan berbagai perlombaan jemparingan sering diadakan satu di antaranya bertepatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 tahun, yang digelar pada Minggu (2/6) lalu.
Ketua Panitia Hadeging Kadipaten Pakualaman, Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro menuturkan, jemparingan bukan hanya sekadar sarana olah raga ketangkasan, melainkan pula sarana untuk mengolah rasa dan karsa.
"Makna khususnya jemparingan yakni sebagai olah raga, olah rasa, dan olah karsa. Kita berlatih untuk mengatur diri sendiri, mengenai bagaimana cara kita untuk mengalahkan diri kita sendiri karena sering distraksi itu datang dari diri kita sendiri," ucap BPH Kusumo Bimantoro.
Meskipun identik dengan orang tua, BPH Kusumo Bimantoro mengatakan bahwa jemparingan kini mulai diminati oleh generasi muda.
"Memang jemparingan selalu dikenal oleh orang-orang yang sudah berumur. Akan tetapi, tahun demi tahun kita berusaha melakukan pengenalan, kita melakukan sosialisasi melalui acara-acara seperti ini, melalui acara-acara, lomba-lomba, dan sayembara-sayembara jemparingan untuk mengenalkan jemparingan kepada generasi-generasi muda, supaya regenerasi. Regenerasi pengembangan dan pelestarian budaya jemparingan," jelasnya.
Sementara itu, Abdi Dalem Pura Pakualaman Urusan Kapanitran KMT Sestrodiprojo menyampaikan, jemparingan juga khas dengan busana yang harus dikenakan.
Dimana pemanah jemparingan diwajibkan untuk memanah dengan mengenakan pakaian daerah masing-masing, seperti busana pranakan atau surjan, apabila berasal dari Jawa.
Busur yang digunakan dalam jemparingan sendiri disebut dengan gandewa.
Sementara sasarannya bukanlah lingkaran, melainkan berupa silinder kecil yang disebut wong-wongan atau bandul yang mencitrakan orang yang sedang berdiri.
Bentuknya silinder tegak sepanjang 30 cm dengan diameter sekitar 3 cm.
Sekitar 5 cm di bagian atas diberi warna merah yang dinamakan molo atau sirah (kepala). Kemudian bagian bawah diberi warna putih dan dinamakan awak (badan).
"Jadi sasaran jemparingan itu berupa bandul. Kalau merah itu nilainya 3, itu dianggap kepala. Yang badan itu yang putih, itu nilainya satu. Setiap rambahan atau ronde istilahnya, itu anak panahnya cuma 4. Dikalikan 20 rambahan atau 20 ronde, jadi orang itu memanah 80 kali," urai KMT Sestrodiprojo.
KMT Sestrodiprojo pun menyebutkan, lomba Jemparingan Mataraman yang digelar dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 ini sendiri diikuti oleh sebanyak 880 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Selain dari lokal DIY, para peserta berasal dari Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
"Memang yang pertama, untuk ikut lomba jemparingan ini adalah yang punya KTP. Artinya dewasa. Seandainya ada anak yang lebih muda atau remaja mau ikut, kita anggap dewasa. Tidak pakai KTP, tidak apa-apa. Kita anggap sudah dewasa. Diperkenankan,” terang KMT Sestrodiprojo.
Saat ditemui di sela perlombaan, Hani salah satu peserta lomba Jemparingan Mataraman berusia 15 tahun asal Surabaya mengungkapkan, ia telah menekuni olahraga ini sejak tahun 2022.
"Awalnya diajak. Terus lama-lama karena busurnya kalau dirancang itu keren jadi tertarik main terus. Ingin punya busur yang keren-keren," ungkap Hani.
Sementara itu, Aksa seorang peserta berumur 10 tahun asal Sleman mengaku tertarik untuk mengikuti jemparingan karena keseruan yang dirasakan saat melakukan olahraga ini.
"Aku suka jemparingan karena seru. Awalnya tak kirain susah, ternyata gampang. Sudah pernah ikut lomba 3 kali tapi belum pernah juara," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )
| Dispar DIY Luncurkan Calender of Event, Sport Tourism Terus Dieksplor |
|
|---|
| Film 1 Kakak 7 Ponakan, Drama Keluarga yang Hangat di Penutupan JAFF 2024 |
|
|---|
| Festival Angkringan Yogyakarta 2024: Angkat Kuliner Ikonik dengan Sentuhan Modern |
|
|---|
| Formulasi Kenaikan UMP Mestinya Disesuaikan dengan Kondisi Daerah |
|
|---|
| Pemda DIY Ikuti Penjurian Apresiasi Kinerja Pemerintahan Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Jemparingan-Warisan-Budaya-Panahan-Tradisional-Yogyakarta.jpg)