Bondho Gongso, Pewaris Sekaligus Pengrajin Gamelan yang Masih Bertahan

Bondho Gongso merupakan tempat produksi alat musik tradisional atau gamelan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Pemilik Bondho Gongso, Trisuko tengah memproduksi alat musik tradisional di bengkel seninya di Banyuraden, Sleman beberapa waktu yang lalu 

Rancakan gamelan tersebut selalu dihiasi dengan ukiran, motif ukir yang diterapkan meliputi daun, sulur, dan bunga atau ceplok.

Sedangkan gong digantungkan pada gayor. Gayor adalah alat untuk menggantungkan gong, baik ketika sedang dipergunakan maupun pada saat disimpan.

Gayor merupakan salah satu perangkat dari gamelan. Gamelan yang lengkap terdiri dari berbagai jenis instrumen
yang berbeda bahan, bentuk, dan ukurannya.

Begitu juga tempat untuk menempatkan berbeda-beda pula bentuknya. Dibuat dari kayu, pada bagian atasnya dihiasi motif sulur-suluran dan bunga matahari sebagai simbol kelangsungan hidup dan harapan masa depan yang lebih baik.

Gong bisa dikatakan yang tersulit karena apabila sudah terbentuk, suara yang dihasilkan tidak langsung berbunyi, berbeda dengan bilah yang sudah berbunyi nyaring namun tidak bernada.

Dalam proses laras atau pembuatan nada tersebut juga tidak sembarang pekerja bisa melakukannya, proses nglaras dilakukan oleh Trisuko selaku pemilik dari Bondho Gongso.

Setelah gong terbentuk maka dilakukanlah proses laras atau menemukan nada yang sesuai, tinggi
rendahnya nada ditentukan dari ukuran gong.

Proses laras gong bisa dikatakan proses tersulit dibandingkan dengan jenis gamelan lainnya, berbeda dengan saron, demung, bonang, dll yang merupakan alat music yang diletakan diatas rancakan.

Gong digantungkan pada gayor, gong bisa dikatakan yang tersulit karena apabila sudah terbentuk, suara yang dihasilkan tidak langsung berbunyi, berbeda dengan bilah yang sudah berbunyi nyaring namun tidak bernada.

Proses laras atau penyesuaian nada dibuat sesuai permintaan pemesan, proses ini dilakukan cara dipukul pada bagian rai gong agar bisa mendapatkan nada yang sesuai, namun hal itu juga tidak mudah untuk dilakukan perlu
kesabaran dan juga kebiasaan dalam mengenali nada.

Proses menemukan nada pada gong tergolong sama.

Dengan menggunakan palu untuk memukul, proses laras dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan nada yang sesuai, hanya saja proses laras pada gong menggunakan palu yang berbahan dasar kayu mengingat rai pada gong cukup tipis. (adv/ord)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved