Bondho Gongso, Pewaris Sekaligus Pengrajin Gamelan yang Masih Bertahan

Bondho Gongso merupakan tempat produksi alat musik tradisional atau gamelan.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Pemilik Bondho Gongso, Trisuko tengah memproduksi alat musik tradisional di bengkel seninya di Banyuraden, Sleman beberapa waktu yang lalu 

Penulis : Candra Sadewa

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN -- Bondho Gongso merupakan tempat produksi alat musik tradisional atau gamelan.

Bondho Gongso terletak di Banyuraden, Sleman, Yogyakarta.

Trisuko selaku pemilik Bondho Gongso sudah menjalani pekerjaan sebagai perajin gamelan sejak dia dikeluarkan dari bangku SMA.

Awalnya dia membantu usaha ayahnya dalam memproduksi gamelan.

Namun setelah ayahnya meninggal pada tahun 2009, Trisuko lah yang melanjutkan usaha tersebut.

Bondho Gongso sendiri tidak diketahui tahun berdirinya, dikarenakan Bondho Gongso sudah ada sejak 5 generasi, atau bisa dikatakan usaha turun temurun dari buyutnya.

Para pekerja Bondho Gongso mayoritas adalah orang dewasa bahkan beberapa di antaranya sudah lanjut usia.

Sementara generasi muda banyak yang tidak tertarik untuk menggeluti profesi sebagai perajin gamelan.

Namun hal itu tidak dijadikan masalah oleh Trisuko.

Hingga saat ini Bondho Gongso masih tetap konsisten memproduksi alat musik tradisional, khususnya gamelan jawa.

Terdapat berbagai macam jenis gamelan yang diproduksi Bondho Gongso, namun gong dan kendang menjadi produk yang paling banyak diproduksi.

Dua alat musik tersebut memiliki keunikannya masing masing, seperti Kendang yang memiliki filosofi yaitu diambil dari sebuah kata di Bahasa Jawa “ndang” yang memiliki arti bersegera atau bergegas.

Memiliki makna untuk bersegeralah untuk mengabdi atau beribadah kepada Tuhan. Tidak hanya itu kata “ndang” juga memiliki banyak sekali makna tergantung konteks apa saja yang menggaris bawahi.

Hampir sama dengan kendang, gong memiliki makna yaitu agung atau besar, mengandung arti bahwa Allah itu Maha Besar, segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.

Setiap gamelan memiliki proses pada setiap bagiannya, Bondho Gongso membuat gamelan tersebut menggunakan alat-alat yang manual, maka dari itu sangat dibutuhkan keterampilan dan keuletan dalam pembuatan gamelan.

Dalam seperangkat gamelan terdapat alat musik gantung yang dinamakan gong, gong memiliki makna yaitu agung atau besar, mengandung arti bahwa Allah itu Maha Besar, segala sesuatu terjadi atas
kehendak Allah.

Setiap peristiwa yang terjadi sebagai pengingat kita terhadap kebesaran.

Allah yang tersimbolkan dalam gong yang merupakan alat paling besar dalam seperangkat gamelan.

Gong memiliki tiga bagian, yaitu rai, bahu, dan pencu. Pembuatan rai merupakan proses awal pembuatan gong.

Rai gong dibuat menggunakan bahan dasar lempeng logam, lalu dibentuk menjadi lingkaran atau bisa disebut rai
dengan menyesuaikan nada yang akan digunakan.

Semakin besar diameter rai, maka semakin rendah nadanya, begitu juga sebaliknya.

Lempengan logam ditempa menggunakan palu mengelilingi lingkar dari lempengan besi sesuai dengan alur yang sudah dibuat.

Hal itu dilakukan untuk dapat membuat suatu lekukan yang akan memudahkan dalam tahap selanjutnya.

Rai gong sendiri dalam Bahasa Indonesia merupakan suatu permukaan pada gong, karena gong terdapat beberapa bagian, yang salah satunya adalah rai.

Diameter rai tergolong cukup banyak kategorinya, rai yang berdiameter 20 inch-30 inch merupakan bendhe, 40 inch-50 inch adalah kempul, 60 inch – 75 inch adalah suwukan, dan gong sendiri merupakan yang terbesar yaitu berukuran 80 inch hingga 100 inch.

Bahu merupakan lempengan logam berbentuk setengah lingkaran yang dihubungkan setiap ujungnya, setiap ukuran bahu juga menyesuaikan ukuran dari rai gong.

Setiap ujung bahu dihubungkan dan dilakukan proses pengelasan sehingga terbentuk sebuah lingkaran.

Langkah berikutnya merupakan pembuatan pencu, pencu merupakan bagian tengah dari gong yang dipukul. pembuatannya hampir sama dengan bahu, yaitu berupa lempengan logam yang ditempa menggunakan palu hingga berbentuk setengah lingkaran.

Bondho Gongso, Pewaris Sekaligus Pengrajin Gamelan yang Masih Bertahan 1
Pemilik Bondho Gongso, Trisuko tengah memproduksi alat musik tradisional di bengkel seninya di Banyuraden, Sleman beberapa waktu yang lalu

Sebelum tahap penyesuaian nada, setiap bagian dari gong dirangkai menggunakan teknik pengelasan.

Dalam proses pengelasan, dibutuhkan keterampilan yang jeli agar dapat menghasilkan hasil las yang rapi dan tidak memiliki rongga, karena hal itu akan mempengaruhi terhadap nada yang akan dihasilkan.

Setelah terbentuknya lingkaran maka harus ditempa mengelilingi bahu untuk dapat menghasilkan lekukan di setiap sudut bahu.

Pada tahap ini, bahu harus ditempa berulang-ulang agar dapat menghasilkan sudut-sudut yang rapi, hal itu juga akan mempengaruhi terhadap hasil akhir nadanya.

Berdasarkan pengalaman dalam pembuatan gamelan, Trisuko mengakui proses pembuatan gong merupakan proses yang tersulit di antara gamelan yang lainnya.

Hal itu dikarenakan, gong memiliki tiga bagian yang dirangkai menjadi satu dengan cara pengelasan. Setiap ukuran diameter gong juga harus menyesuaikan terhadap ukuran bagian-bagian gong yang lainnya, seperti rai, pencu, dan blengker.

Setiap bagian tersebut harus memiliki ukuran yang sesuai agar dapat disatukan dengan pengelasan.

Berbeda dari gamelan yang lain, gong merupakan alat musik yang digantungkan, sehingga gong membutuhkan alat untuk menggantungkan yang bernama gayor.

Sedangkan gamelan lain membutuhkan alat sebagai pangkon atau pangkuan yang bernama rancakan.

Gong adalah alat musik gantung, hal itu membuat gong sangat sulit dalam proses laras atau menemukan nada sehingga dapat menjadi suatu keunikan dalam pembuatan gong ataupun alat-alat musik lainnya seperti bendhe, kempul ataupun suwukan.

Setelah bahu, pencu, dan rai disatukan, tahap selanjutnya merupakan tahap pemolesan atau merapikan bekas dari hasil las.

Proses pemolesan merupakan suatu detailing yang harus dilakukan agar menjamin pada hasil akhir dari gong.

Proses pemolesan dilakukan dengan tujuan agar gong terlihat rapi, hal itu menjadi suatu point penting dalam pembuatan gong, karena kerapian menjadi suatu identitas dari pengrajin gamelan.

Tahap akhir dari pembuatan gong adalah menemukan nada yang sesuai, tinggi rendahnya nada ditentukan dari ukuran gong.

Proses laras gong bisa dikatakan proses tersulit dibandingkan dengan jenis gamelan lainnya, berbeda dengan saron, demung, bonang, dll yang merupakan alat musik yang diletakan di atas rancakan.

Rancakan merupakan bagian alat gamelan yang dibuat dari kayu untuk menaruh bonang, saron dan sebagainya.

Rancakan gamelan tersebut selalu dihiasi dengan ukiran, motif ukir yang diterapkan meliputi daun, sulur, dan bunga atau ceplok.

Sedangkan gong digantungkan pada gayor. Gayor adalah alat untuk menggantungkan gong, baik ketika sedang dipergunakan maupun pada saat disimpan.

Gayor merupakan salah satu perangkat dari gamelan. Gamelan yang lengkap terdiri dari berbagai jenis instrumen
yang berbeda bahan, bentuk, dan ukurannya.

Begitu juga tempat untuk menempatkan berbeda-beda pula bentuknya. Dibuat dari kayu, pada bagian atasnya dihiasi motif sulur-suluran dan bunga matahari sebagai simbol kelangsungan hidup dan harapan masa depan yang lebih baik.

Gong bisa dikatakan yang tersulit karena apabila sudah terbentuk, suara yang dihasilkan tidak langsung berbunyi, berbeda dengan bilah yang sudah berbunyi nyaring namun tidak bernada.

Dalam proses laras atau pembuatan nada tersebut juga tidak sembarang pekerja bisa melakukannya, proses nglaras dilakukan oleh Trisuko selaku pemilik dari Bondho Gongso.

Setelah gong terbentuk maka dilakukanlah proses laras atau menemukan nada yang sesuai, tinggi
rendahnya nada ditentukan dari ukuran gong.

Proses laras gong bisa dikatakan proses tersulit dibandingkan dengan jenis gamelan lainnya, berbeda dengan saron, demung, bonang, dll yang merupakan alat music yang diletakan diatas rancakan.

Gong digantungkan pada gayor, gong bisa dikatakan yang tersulit karena apabila sudah terbentuk, suara yang dihasilkan tidak langsung berbunyi, berbeda dengan bilah yang sudah berbunyi nyaring namun tidak bernada.

Proses laras atau penyesuaian nada dibuat sesuai permintaan pemesan, proses ini dilakukan cara dipukul pada bagian rai gong agar bisa mendapatkan nada yang sesuai, namun hal itu juga tidak mudah untuk dilakukan perlu
kesabaran dan juga kebiasaan dalam mengenali nada.

Proses menemukan nada pada gong tergolong sama.

Dengan menggunakan palu untuk memukul, proses laras dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan nada yang sesuai, hanya saja proses laras pada gong menggunakan palu yang berbahan dasar kayu mengingat rai pada gong cukup tipis. (adv/ord)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved