Tanggapi Keluhan PKL Teras Malioboro 2 soal Penurunan Omzet, Ini Jawaban Sri Sultan HB X

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X angkat bicara terkait aksi unjuk rasa ratusan pedagang kaki lima (PKL) Teras Malioboro 2

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Jumat (15/12/2023). 

"Ngarsa Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) pernah berstatement bahwa dalam 2 tahun relokasi akan diadakan evaluasi. Evaluasi semacam apa karena teman-teman Teras Malioboro 2 memang yang paling merasakan dampak dari relokasi itu sendiri dimana penjualan sgt menurun," ujarnya.

"Walaupun sepertinya banyak pengunjung, tapi tidak bisa tersebar pembelinya. Jadi memang pendapatannya sangat menurun, maka disini bagaimana caranya pemangku kebijakan bisa memperhatikan kesejahteraan teman-teman PKL Teras Malioboro 2," lanjutnya.

Disinggung mengenai omzet, Arif membandingkan saat masih berjualan di selasar para PKL bisa mengandalkan pendapatan saat momen liburan, tahun baru, dan lebaran.

"Kalau untuk momen liburan, di selasar Malioboro bisa mencapai Rp10 juta per hari itu pun omzet kotor. Sekarang di Teras Maliobiro 2 untuk bisa mendapatkan Rp500 ribu per hari saat liburan tergantung teman-teman pedagang. Kalau teman-temen yang ada di bagian depan (Teras Malioboro 2) bisa sampai Rp1 juta-Rp2 juta per hari, tapi kalau yang bagian tengah dan belakang itu untuk bisa dapat penglaris saja susah," ujarnya.

Di samping itu, Arif menambahkan bahwa Teras Malioboro 2 secara tempat juga tidak representatif, sebab saat siang hari sangatlah panas serta listrik yang kerap padam juga menjadi kendala bagi para PKL.

Sebab itu, para PKL mengajukan tuntutan yakni kembali ke selasar. Pihaknya juga mau ditata seperti apa ke depan.

Itu dinilai akan bisa menghemat anggaran dari pemerintah. Tidak harus membangun gedung-gedung yang puluhan miliar.

"Cuma butuh di selasar, ditata, ungkur-ungkuran (saling membelakangi) gak masalah, karena itu habitat kita pertamanya. Itu yang diharap teman-teman semua," ungkapnya.

Pun jika tidak diindahkan permintaan tersebut, paling penting para pedagang dilibatkan berdialog dan ada jaminan kesejahteraan dimanapun berada untuk berjualan.

"Jangan sampai kita cuma sekedar dipindah tapi tidak diperhatikan keberlanjutannya seperti di Teras Malioboro 2 sekedar dipindah tapi tidak diperhatikan sampai sekarang tentang kelangsungannya," tambahnya.

Dia pun masih menaruh rasa khawatir ketika nanti direlokasi ke Teras Malioboro 2 yang baru, akan lebih anjlok omzetnya.

Sebab, dia menilai para pedagang Teras Malioboro 2 yang memangku Jalan Malioboro dan Jalan Mataram notabene merupakan tempat keramaian saja kondisinya sepi pembeli. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved