Politik Global

Menlu Uganda : Afrika Tahu Siapa Sesungguhnya Musuh Mereka

Menlu Uganda Abubaker Jeje Odongo menegaskannegara-negara di Agrika tahu siapa musuh mereka. Ia mengingatka para bekas penjajah Afrika tak mendikte.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
east-usa.com
Letak negara Chad di Benua Afrika dikelilingi negara-negara lain yang sedang memiliki konflik bersenjata. Bekas koloni Prancis itu sedang mengalami krisis politik, pertentangan antara rezim militer dan transisi sipil. 

TRIBUNJOGJA.COM, ADDIS ABABA – Menteri Luar Negeri Uganda, Abubaker Jeje Odongo, menegaskan, Afrika memiliki pandangan yang sangat jelas dan tahu siapa musuh mereka.

Jeje Odongo menambahkan mantan penjajah barat tidak memiliki hak untuk memberi tahu negara-negara Afrika dalam banyak hal politik.

Nyaris semua negara di benua Afrika pernah menjadi korban imperialis dan kolonialisme barat (Eropa). Jika tidak Inggris, Belanda, Belgia, Portugal, mereka pernah menjadi koloni Prancis.

Di mata Uganda, kekuatan barat memberikan tekanan terbesar secara internasional, memaksa negara-negara untuk memutuskan hubungan dengan Moskow.

Barat mengancam sanksi dalam upaya untuk mengisolasi negara terbesar di dunia, sebuah upaya yang tampaknya tidak menghasilkan apa-apa bagi benua Afrika.

“Kami dijajah, dan kami memaafkan mereka yang menjajah kami. Sekarang penjajah meminta kita untuk menjadi musuh Rusia, yang tidak pernah menjajah kita; apakah itu adil?” tanya Jeje Odongo.

“Bukan, jadi bagi kita, musuh mereka adalah musuh mereka, teman kita adalah teman kita. Harus ada pengecualian, tidak boleh ada campur tangan dalam hal itu,” lanjut Odongo.

Baca juga: Diplomat Senior Israel Diusir dari Arena KTT Uni Afrika di Addis Ababa

Baca juga: Dubes Eritrea : Barat Mulai Kehilangan Pengaruh di Benua Afrika

Baca juga: Tantang Hegemoni Barat, China Intens Garap Benua Afrika

Menlu Uganda menunjukkan kerja sama militer Uganda dengan Rusia adalah masalah hidup dan mati bagi negara Afrika.

Kampala bertekad untuk mempertahankannya meskipun ada tekanan dan ancaman sanksi yang datang dari barat.

“Sebagian besar peralatan militer kami adalah buatan Rusia dan terlepas dari apa yang disebut sanksi untuk Uganda, untuk terus mempertahankan diri, Uganda harus terus memperbarui peralatan yang dimilikinya,” bebernya.

“Jadi soal sanksi, memang rumit, tapi bagi kami, ini soal hidup dan mati. Kami akan melanjutkan karena kami harus bertahan hidup,” tambah Odongo.

Uganda dan Rusia memiliki hubungan lama sejak tahun 1960-an, dan banyak siswa Uganda telah diajar dan dilatih di Rusia.

Odongo juga mengonfirmasi Presiden Uganda Yoweri Museveni akan ambil bagian dalam KTT Rusia-Afrika mendatang, yang dijadwalkan akan diadakan pada akhir Juli di Saint Petersburg.

Dalam KTT ke-36 Uni Afrika (AU) di Addis Ababa, peserta berfokus terutama pada masalah ekonomi. Sidang dipimpin Presiden Senegal, Macky Sall.

Presiden Rusia Vladimir Putin diberi kesempatan menyampaikan sambutan secara virtual. Putin mengucapkan terima kasih telah diberi tempat.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved