Politik Global
Tantang Hegemoni Barat, China Intens Garap Benua Afrika
Menlu China Xin Gang memulai tur Benua Afrika dari Ethiopia, dan menekankan promosi investasi kerjasama saling menguntungkan dan tidak mendikte.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, BEIJING – Menteri Luar Negeri China Qin Gang mempromosikan investasi Beijing dalam pembangunan dan modernisasi Afrika selama perjalanan luar negeri pertamanya ke benua itu.
Qin Gang yang baru memimpin Kemenlu China mengatakan pada Rabu (11/1/2023), benua Afrika itu seharusnya tidak menjadi medan pertempuran bagi kekuatan dunia yang bersaing.
Qin memulai tur lima negara di Ethiopia pada Rabu, membuka markas baru Pusat Pengendalian Penyakit Afrika (CDC), yang dibangun oleh para insinyur China.
Selama di Addis Ababa, dia bertemu dengan pimpinan Ethiopia dan mengunjungi markas besar Uni Afrika. Dia dijadwalkan mengunjungi Mesir, Angola, Benin, dan Gabon sebelum kembali ke China.
“Afrika harus menjadi panggung besar untuk kerja sama internasional, bukan arena persaingan antar negara besar,” kata Qin pada konferensi pers dengan ketua Komisi AU Moussa Faki.
Mantan Duta Besar China untuk AS, Qin Gang menjadi menteri luar negeri bulan lalu.
Baca juga: Dubes Eritrea : Barat Mulai Kehilangan Pengaruh di Benua Afrika
Baca juga: Prancis Resmi Akhiri Operasi Antiteror Barkhane di Bekas Jajahannya di Afrika
Baca juga: Menlu Afsel : Rusia Berpotensi Mainkan Peran Besar di Afrika
Dia melanjutkan tradisi menjadikan Afrika sebagai tujuan asing pertama dalam masa jabatannya, yang dia catat telah berlanjut selama 33 tahun tanpa henti.
Berbicara pada pembukaan CDC Afrika, dia menguraikan visi Beijing untuk hubungan dengan Afrika.
Ia mengatakan keduanya akan selalu memiliki masa depan bersama tidak peduli bagaimana lingkungan internasional berubah.
“Hari ini, dunia kita, waktu dan sejarah kita berubah dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kebangkitan kolektif negara-negara berkembang tidak dapat diubah,” kata Qin.
China dan Afrika menurutnya harus menentang hegemoni, perundungan, sikap sewenang-wenang dan diskriminasi rasial.
Kedua kekuatan besar itu mesti bersama-sama menjaga multilateralisme sejati dan mempromosikan demokrasi yang lebih besar dalam hubungan internasional.
Qin bersikeras kebijakan Beijing didasarkan pada prinsip ketulusan, hasil nyata, persahabatan dan itikad baik, dan mengejar kebaikan yang lebih besar dan kepentingan bersama.
China tidak membuat janji kosong, apalagi menekan orang lain yang bertentangan dengan keinginan mereka sendiri,” katanya dalam pidato di CDC Afrika.
“Ketika diserahkan kepada teman-teman Afrika kita, markas CDC Afrika akan sepenuhnya dijalankan dan dikelola oleh AU tanpa campur tangan dari China,” lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jembatan-gantung-maputo-katembe-sepanjang-3-kilometer.jpg)