Perang Rusia Vs Ukraina

Politisi Jerman Kecam Keras Pengiriman Tank Leopard ke Ukraina

Politisi Jerman dari sayap kiri, Sevim Dagdelen mengecam keras keputusan pemerintah Berlin mengirim tank Leopard 2 ke Ukraina.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Bundeswehr
Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya. 

Kirby mencatat Washington telah mengerahkan 20.000 tentara tambahan ke Eropa, sehingga jumlah totalnya menjadi 100.000.

Dia menambahkan NATO yakin mereka memiliki kemampuan, energi, bakat, tenaga kerja, sumber daya untuk memenuhi komitmen Pasal 5 Pakta NATO.

Seorang tentara Rusia menembakkan rudal antitank Kornet di sebuah lokasi pertempuran pada 2017. Rudal Kornet telah digunakan di medan tempur Irak, Suriah, dan Yaman. Sejumlah tank tempur Abrams milik Irak dan Arab Saudi telah dihancurkan menggunakan rudal ini.
Seorang tentara Rusia menembakkan rudal antitank Kornet di sebuah lokasi pertempuran pada 2017. Rudal Kornet telah digunakan di medan tempur Irak, Suriah, dan Yaman. Sejumlah tank tempur Abrams milik Irak dan Arab Saudi telah dihancurkan menggunakan rudal ini. (Wikipedia Common)

Rusia secara konsisten menggambarkan kehadiran militer AS di sayap timur NATO sebagai ancaman.

Pada akhir Oktober, Sekretaris Pers Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan semakin dekat pasukan Amerika ke perbatasan, semakin besar bahaya dihadapi Rusia.

Kirby juga mengatakan AS memperhatikan garis merah yang ditarik oleh Moskow di Ukraina. “Kami tidak menerima begitu saja ketika mereka mengatakannya. Kami tidak meremehkan,” katanya.

Pada musim gugur, Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan Washington pengiriman senjata jarak jauh ke Kiev akan melewati garis merah.

Amerika akan dianggap jadi pihak langsung dalam konflik. Pada Selasa, Dmitry Polyansky, Deputi Perwakilan Tetap Pertama Moskow untuk PBB, menganggap barat mengabaikan peringatan Moskow.

Hari berikutnya, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan semua pembicaraan tentang garis merah telah menjadi masa lalu.(Tribunjogja.com/Sputniknews/RussiaToday/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved