Benda Bercahaya di Atas Gunung Merapi, Pusat Sains Antariksa BRIN: Kemungkinan Satelit FalconSAT-3

Munculnya cahaya putih di atas Gunung Merapi pada 24 Januari 2023 dini hari itu besar kemungkinan adalah satelit FalconSAT-3

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
istimewa
Tangkapan layar benda bercahaya di atas Gunung Merapi pada 24 Januari 2023 pukul 01.30 WIB 

Sementara itu dikutip dari Kompas.com, Pusat Sains Antariksa (Pusainsa) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menduga benda bercahaya yang melintas di atas Gunung Merapi adalah FalconSAT-3.

Hal itu disampaikan oleh peneliti Pusainsa Andi Pangerang.

"Munculnya cahaya putih di atas Gunung Merapi pada 24 Januari 2023 dini hari itu besar kemungkinan adalah satelit FalconSAT-3 yang mengalami atmospheric reentry," jelas Andi kepada Kompas.com, Kamis (26/1/2023).

Atmospheric reentry yakni satelit itu sudah tidak aktif kemudian jatuh ke permukaan Bumi.

Andi menyampaikan, dari pantauan seluruh badan antariksa di dunia, satelit ini awalnya diperkirakan akan jatuh kembali ke Bumi pada 21 Januari 2023.

"Akan tetapi, satelit usang ini masih terpantau mengorbit Bumi dengan ketinggian yang semakin rendah," tutur Andi.

Diperkirakan pada 24 Januari 2023 pukul 01.23 WIB, satelit ini memasuki ketinggian sekitar 138 kilometer dan mulai jatuh ke Bumi secara perlahan.

Kelajuannya antara 40-50 km per detik atau sekitar 144.000 hingga 180.000 km per jam.

Satelit ini berada di atas perairan timur Laut Madagaskar, dekat Samudra Hindia.

Adapun titik jatuhnya diperkirakan berlokasi di sekitar Samudra Hindia.

"Dari Pulau Jawa, secara kebetulan terekam oleh radar Gunung Merapi dari PVMBG. Terlihat setitik cahaya dari arah timur laut ke barat daya dan hasilnya cocok dengan perkiraan orbit dari satelit FalconSAT-3 ini," terang Andi.

Andi berpendapat agar satelit usang tersebut segera diamankan sehingga lautan yang terdampak tetap aman dan tidak tercemar pecahan satelit.

"Dan juga bisa dibawa kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat, untuk dilakukan riset," ucapnya.

Riset perlu dilakukan agar ketika satelit usang kembali ke atmosfer Bumi tidak membawa dampak yang mengancam lingkungan hidup.(*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved