Perang Rusia Ukraina

Staf Presiden Ukraina Sesumbar Pasukan Kiev Akan Hancurkan Jembatan Krimea

Mikhail Podolyak, staf khusus Presiden Ukraina mengancam pasukan Ukraina akan menghancurkan jembatan Krimea-Rusia, cepat atau lambat.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Wikipedia/Rosavtodor.ru
TARGET - Jembatan Krimea ini termasuk infrastruktur raksasa di Eropa yang dibangun Rusia setelah Semenanjung Krimea bergabung Federasi Rusia pada 2014. 

TRIBUNJOGJA.COM, KIEV – Mikhail Podolyak, staf ahli Presiden Ukraina Volodymir Zelensky, mengancam, pasukan Kiev akan segera menghancurkan Jembatan Krimea-Rusia.

Jembatan raksasa itu menghubungkan Semenanjung Krimea dan daratan Rusia. Fungsinya sangat strategis bagi Rusia dan penduduk Krimea.

Menurut Podolyak, jembatan itu dianggap konstruksi ilegal menyusul bergabungnya Krimea ke Federasi Rusia beberapa tahun lalu.

“Ini adalah konstruksi ilegal dan pintu gerbang utama untuk memasok tentara Rusia di Krimea,” kata Mikhail Podolyak kepada media Inggris, The Guardian, Selasa (16/8/2022) waktu Kiev

Baca juga: Rusia Akui Ledakan Dahsyat Gudang Amunisi di Krimea Aksi Sabotase

Baca juga: Medvedev : Jika Serang Krimea, Kiamat Itu Akan Tiba di Ukraina

Baca juga: Jerman Gagalkan Usaha Dua Tentara Bundeswehr yang Ingin Serang Krimea

Itu alasan utama mengapa Ukraina berkeras ingin menghancurkan jembatan yang dibangun Rusia setelah Krimea memisahkan diri dari Ukraina pada 2014.

Penduduk Krimea yang secara tradisional mayoritas penutur Rusia dan etnik Slavik, memilih bergabung ke Rusia sesudah kudeta bersenjata di Kiev pada 2014.

Jembatan itu dibangun dan membentuk koneksi jalan dan kereta api langsung dari Rusia ke wilayah tersebut, yang sebelumnya hanya dapat dicapai dari Rusia melalui laut atau udara.

Jembatan ini sebagian besar digunakan oleh lalu lintas sipil. Podolyak adalah pejabat Ukraina terbaru yang mengkonfirmasi niat Kiev untuk menyerang struktur tersebut.

Pernyataan itu muncul saat ia tampaknya mengisyaratkan Ukraina sedang dalam proses melakukan serangkaian tindakan sabotase di Krimea.

Sejak pekan lalu, dua lokasi terpisah di semenanjung itu telah diguncang ledakan dahsyat di lokasi militer yang digunakan untuk menyimpan amunisi.

Kementerian Pertahanan Rusia mengakui yang terbaru, yang terjadi pada Selasa di dekat desa Mayskoye di Krimea utara, sebagai tindakan sabotase.

Kiev belum secara resmi menanggapi dua insiden di Krimea itu. Tetapi banyak pejabat Ukraina mengisyaratkan sumber masalahnya sama.

“Saya tentu setuju dengan Kementerian Pertahanan Rusia, yang memprediksi lebih banyak insiden semacam ini dalam dua, tiga bulan ke depan. Saya pikir kita mungkin melihat lebih banyak dari itu terjadi,” kata Podolyak

Staf ahli Presiden Ukraina itu menyebut serangan klandestin yang diklaim sebagai serangan balasan yang sifatnya berbeda dari jenis aksi militer yang biasanya digambarkan dengan istilah ini.

“Serangan balasan Ukraina terlihat sangat berbeda. Kami tidak menggunakan taktik tahun 60-an dan 70-an, abad terakhir,” klaimnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved