Kedaulatan Pangan dalam Perubahan Geopolitik Dunia
Pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina berdampak meningkatnya ancaman pada sektor vital setiap negara, termasuk sektor pangan nasional.
Kondisi itu, diperparah dengan dampak perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan terganggunya ketersediaan pupuk yang merupakan bagian dari proses produksi pangan. Namun, inflasi nasional tetap terjaga dengan dukungan pasokan dan pertumbuhan sektor pangan menjadi faktor penopang utama.
Di satu sisi dalam membangun sektor pangan yang kuat perlu campur tangan teknologi dalam proses produksi pangan nasional.
Untuk mencapai target menjadi negara dengan ekonomi nomor lima di dunia, Indonesia harus memacu pertumbuhan investasi sehingga iklim investasi nasional harus terus ditingkatkan.
Namun berbagai persoalan dunia terjadi dewasa ini mengganggu rantai pasok dan perdagangan dunia.
Karenanya Indonesia harus melakukan lebih banyak perjanjian perdagangan baru dengan sejumlah negara untuk mengatasi dampak terganggunya pasokan komoditas ke tanah air.
Saat ini Indonesia menghadapi krisis di atas krisis, setelah menghadapi dampak Covid-19 disusul dampak perang Rusia-Ukraina. Belum lagi, adanya potensi kebijakan The Fed menaikkan tingkat suku bunga yang biasanya berdampak kepada negara-negara berkembang.
Berdasarkan kondisi tersebut, Pemerintah dan DPR hendaknya menyepakati bahwa harga bahan bakar jenis Pertalite dan listrik tidak perlu naik, untuk meredam dampak lebih besar terhadap masyarakat.
Namun dampaknya pemerintah harus rela mengeluarkan subsidi yang sangat signifikan. Apalagi saat ini terdapat dua perang yaitu perang melawan pandemi dan perang ekonomi yang harus dihadapi dengan bersatu untuk memenangi perang tersebut.
Solusi untuk menghadapi kondisi itu, antara lain dengan memastikan masyarakat memiliki daya beli. Di sisi lain, perlu subsidi bahan baku, subsidi bagi petani dan pengusaha mikro, agar harga produk terjangkau.
Pembebasan sementara bea masuk dan PPN untuk bahan baku impor, juga harus diterapkan untuk membantu para pelaku usaha tetap bertahan.
Secara umum stok komoditas pangan dunia saat ini hanya untuk 90 hari. Komoditas gandum dalam dua tahun terakhir, produksinya selalu lebih rendah dari permintaan. Oleh karenanya perlu dipikirkan bahan-bahan lain sebagai pengganti terigu, bisa berasal dari singkong atau sorgum. Stok dunia untuk gandum 120 hari, namun 50 persen dari stok tersebut berada di Tiongkok, yang tidak mungkin diekspor.
Optimisme sangat penting dalam menghadapi dampak perubahan politik dan ekonomi dunia saat ini. Upaya swasembada pada komoditas tertentu belum menjamin ketersediaannya bagi masyarakat. Hal itu, terlihat pada kasus tingginya harga minyak goreng di tanah air.
Meskipun Indonesia sudah swasembada minyak goreng, tetapi tidak kuasa dalam mengendalikan harga CPO dunia. Karena, struktur industri CPO nasional terlalu besar sekitar 70 perusahaan, seharusnya disederhanakan menjadi lima perusahaan saja.
Selain itu, sebagian besar perkebunan kelapa sawit memiliki lahan melebihi ketentuan yang telah ditetapkan. Karenanya redistribusi aset sangat penting, karena saat ini 1 % perusahaan menguasai 50 % lahan kelapa sawit.
Geopolitik saat ini harus menemukan titik keseimbangan baru dalam hal penguasaan sumber daya dan rantai pasok. Proses menuju keseimbangan baru itu berpotensi menimbulkan goncangan yang berdampak pada masyarakat. Jumlah penduduk miskin Indonesia yang 25 juta orang dan 40 juta penduduk rentan miskin sangat rawan terhadap goncangan yang terjadi dan harus diwaspadai. Negara berkewajiban untuk memastikan penduduk agar tidak kelaparan dan cukup gizi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/yudah-prakoso-geopolitik.jpg)