Kedaulatan Pangan dalam Perubahan Geopolitik Dunia
Pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina berdampak meningkatnya ancaman pada sektor vital setiap negara, termasuk sektor pangan nasional.
Oleh: Yudah Prakoso R
TRIBUNJOGJA.COM - Perubahan geopolitik dunia menuntut anak bangsa bersama-sama tidak sekadar berjuang mewujudkan ketahanan pangan, namun harus mewujudkan kedaulatan pangan.
Memaknai dinamika peran Indonesia dalam konstelasi ekonomi dan politik dunia, diperlukan jaminan agar upaya pemulihan ekonomi nasional, jaminan ketahanan pangan dan energi, bisa terlaksana dengan baik.
Optimisme untuk mewujudkan kedaulatan pangan harus terus dibangun melalui penerapan langkah-langkah strategis agar mampu mengakselerasi pencapaian tersebut.
Seperti yang pernah diungkapkan Bung Karno pada saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia 27 April 1957, bahwa persoalan pangan adalah persoalan hidup matinya suatu bangsa.
Selain itu pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina berdampak meningkatnya ancaman pada sektor vital setiap negara, termasuk sektor pangan nasional.
Mengantisipasi dampak tersebut, dibutuhkan gerak bersama, searah dan tanpa kompromi untuk menjawab tantangan itu. Apalagi, pandemi juga menyasar ketahahan suatu negara dalam bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan.
Kondisi itu, harus disikapi dengan kebijakan dan langkah yang tepat dari Indonesia yang berada dalam geopolitik dunia, sehingga menuntut tetap meningkatkan komitmen kepada prinsip-prinsip non-blok dalam menyikapi perubahan politik dan ekonomi dunia saat ini.
Saat ini dunia menghadapi potensi perang di bidang rantai pasok di era geo 5 yang mengedepankan kekuatan cyber dan artificial intelegence dalam pelaksanaannya.
Namun, hingga saat ini Indonesia hanya mengandalkan hubungan antar negara ASEAN dan bilateral dalam menghadapi perubahan geopolitik yang kompleks.
Agar bangsa ini segera mengedepankan green dan blue policy di sektor lingkungan dan laut dalam membangun negeri ini.
Sebab bila kebijakan itu tidak diterapkan, pada 2030 Indonesia akan menghadapi masalah besar, utamanya pada krisis pangan, meskipun pertumbuhan sektor pertanian nasional cukup baik.
Meski begitu, harus dicermati apakah petani mendapat manfaat langsung dari meningkatnya harga pangan saat ini?
Dengan tantangan perubahan politik dan ekonomi dunia yang kompleks saat ini, bila tidak ada teknologi baru dalam pengelolaan pertanian yang mengarah pada intensifikasi yang berkelanjutan, Indonesia akan menghadapi masalah pangan.
Dalam tiga tahun terakhir sektor pangan dihantam pandemi dan perubahan iklim yang mengganggu produksi dan distribusinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/yudah-prakoso-geopolitik.jpg)