Berita Bantul Hari Ini
Dinas Kesehatan Bantul Catat 514 Kasus DBD Hingga Pertengahan Tahun 2022
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mendata jumlah kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD ) di Kabupaten Bantul sudah mencapai 514 kasus.
Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mendata jumlah kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD ) di Kabupaten Bantul sudah mencapai 514 kasus.
Meski baru di pertengahan tahun, namun angka ini lebih tinggi dari jumlah kasus dalam satu tahun di 2021.
Dari data Dinkes Bantul, tahun 2021 di Kabupaten Bantul terdapat 410 kasus DBD dengan pasien yang meninggal satu orang.
"Sampai minggu ini jumlah kasus DBD yang terlaporkan 514. Dan belum ada laporan kematian," ujar Kabid Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bantul, dr Sri Wahyu Joko Santoso, Sabtu (25/6/2022)
Baca juga: DPD PPNI Bantul Gelar Musda ke-10, Ini Pesan Bupati Abdul Halim Muslih
Pria yang akrab disapa dokter Oki ini menyampaikan bahwa Bantul seringkali menempati rangking tertinggi di Provinsi DIY karena kasus DBD .
Karenanya, pihaknya merasa senang sekali, saat teknologi Wolbachia bisa diimplementasikan di wilayah Kabupaten Bantul.
Sekitar 19.437 ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia akan dititipkan di hunian masyarakat dan fasilitas umum yang akan menjadi orang tua asuh (OTA) ember tersebut.
Selama kurang lebih 6 bulan ke depan harapannya nyamuk ber-wolbachia yang keluar dari ember tersebut akan kawin dengan nyamuk lokal dan menghasilkan keturunan yang sudah ber-wolbachia dan membuat virus dengue mati atau sudah tidak efektif.
Selain dengan implementasi teknologi Wolbachia, sebagai upaya pencegahan DBD , upaya kuratif yang dilakukan adalah dengan memastikan penanganan kasus DBD dengan baik, agar kasus kematian bisa diminimalkan.
"Di setiap Puskesmas di Bantul difasilitasi reagent, sehingga bisa mendeteksi kasus DBD jika ada pasien yang mengalami demam lebih dari 2 hari," ungkapnya.
Selain itu, Dinkes Bantul turut mendorong adanya revitalisasi sistem rujukan, sehingga pasien dengan kasus DBD bisa dirujuk ke rumah sakit daerah dan rumah sakit swasta.
Sebelumnya, Project Leader World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta Prof. dr. Adi Utarini menjelaskan sudah hampir 55 tahun dengue ada di sekitar kita, dan menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Baca juga: Tiga Remaja jadi Pelaku Begal di Duren Sawit, Dikenal Kejam, Bacok dan Siram Air Keras Korbannya
Hampir seluruh kabupaten di Indonesia melaporkan angka kejadian dengue, terutama di wilayah perkotaan. Kesakitan dan kematian akibat dengue masih terus terjadi, dari tahun ke tahun.
“Sayangnya, belum ditemukan obat khusus untuk penyakit dengue. Sehingga, pencegahan adalah cara terbaik. Bersyukur, saat ini terdapat sejumlah inovasi dalam penanggulangan dengue, antara lain teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dan vaksin dengue," ujarnya.
Penelitian aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue berakhir di Kota Yogyakarta (2017-2020) yang menunjukkan teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia efektif menurunkan 77 persen kasus DBD dan menurunkan 86 persen kasus DBD yang dirawat di rumah sakit.
"Teknologi Wolbachia juga telah diimplementasikan di Kabupaten Sleman dan Bantul ," tambahnya. (nto)