Berita Bantul Hari Ini

19 Ribu Ember Nyamuk ber-Wolbachia Disebar di Bantul untuk Tekan Kasus DBD

Nyamuk ber-wolbachia yang menetas dapat kawin dengan nyamuk lokal dan dapat mematikan virus dangue penyebab penyakit Demam Berdarah Dangue ( DBD ).

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Bupati Bantul menerima secara simbolis telur nyamuk ber-wolbachia yang kemudian akan disebar di 519 padukuhan yang tersebar di 11 Kapanewon. 

Setiap 2 minggu sekali, kader kesehatan akan mengganti ember dengan telur nyamuk dan makanan nyamuk yang baru.

Harapannya dalam periode tersebut, nyamuk bisa berkembang biak dan menetap di area pelepasan, sehingga nantinya akan mencegah penularan DBD .

Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budiraharja, menyampaikan bahwa selama ini kasus DBD di Bantul seringkali menempati posisi teratas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bergantian dengan wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta.

Dari data Dinkes Bantul, tahun 2021 di Kabupaten Bantul terdapat 410 kasus DBD dengan pasien yang meninggal satu orang.

Kemudian di tahun ini, data hingga Mei 2022 terdapat 403 kasus DBD dan tidak ada pasien meninggal karena penyakit ini.

Baca juga: Nyamuk ber- Wolbachia Dinilai Efektif Turunkan Kasus Demam Berdarah di Kota Yogyakarta

"Teknologi Wolbachia digadang menjadi salah satu strategi yang akan melengkapi upaya pengendalian DBD di Bantul. Wolbachia sebagai bakteri alami yang ditemukan pada 60 % serangga ini, mampu bekerja menghambat replikasi virus dengue pada tubuh nyamuk Aedes Aegypti, sehingga mencegah penularan virus dengue ke tubuh manusia," tuturnya.

Ia berharap masyarakat yang menjadi orang tua asuh ember nyamuk ber-wolbachia dapat menjadi orang tua yang turut menjaga dan memantau kondisi ember, agar tetap aman, tidak tumpah, bahkan hilang.

"Kita coba evaluasi tahun depan karena berdasarkan penelitian, setahun kita bisa memetik hasil dari manfaat dari penanaman Wolbachia ini," ucapnya.

Meski ada teknologi ini, ia pun tetap mengimbau masyarakat untuk tetap menjalankan program pengendalian DBD yang sudah ada.

"Walaupun sudah diimplementasikan teknologi Wolbachia, warga tetap perlu menjalankan upaya pengendalian dangue yang sudah ada seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 4M plus, gerakan 1 rumah 1 jumantik dan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)," tutupnya.( Tribunjogja.com )
 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved