Berita Bantul Hari Ini

19 Ribu Ember Nyamuk ber-Wolbachia Disebar di Bantul untuk Tekan Kasus DBD

Nyamuk ber-wolbachia yang menetas dapat kawin dengan nyamuk lokal dan dapat mematikan virus dangue penyebab penyakit Demam Berdarah Dangue ( DBD ).

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Bupati Bantul menerima secara simbolis telur nyamuk ber-wolbachia yang kemudian akan disebar di 519 padukuhan yang tersebar di 11 Kapanewon. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemkab Bantul melalui Dinas Kesehatan bersama World Mosquito Program (WMP) meluncurkan program bertajuk Wolbachia wis Masuk Bantul atau WOW Mantul, Selasa (24/5/2022).

Melalui program ini Dinkes bersama WMP akan menyebar ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia, dengan demikian nyamuk ber-wolbachia yang menetas dapat kawin dengan nyamuk lokal dan dapat mematikan virus dangue penyebab penyakit Demam Berdarah Dangue ( DBD ).

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih memaparkan  bahwa pihaknya terus berupaya untuk menjaga kesehatan masyarakat di mana salah satu penyakit yang berbahaya adalah DBD .

"Data menunjukkan bahwa DBD ini telah memakan korban banyak orang, mulai anak-anak sampai orang tua. Sehingga kita harus melakukan upaya trobosan, salah satunya bekerja sama dengan WMP yang punya teknologi Wolbachia ," ujarnya.

Baca juga: UGM dan WMP Yogyakarta Sabet Penghargaan MURI, Pelopor Penelitian Nyamuk ber-Wolbachia

Teknologi ini menyuntikkan bakteri Wolbachia ke telur nyamuk, ketika nanti menetas kemudian menjadi nyamuk ber-wolbachia.

Nyamuk tersebut akan mengawini nyamuk yang lain dan membuat virus dangue mati atau sudah tidak efektif.

Karena Bantul memiliki wilayah yang luas, maka ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia di 519 padukuhan yang tersebar di 11 Kapanewon.  

"Saya berharap masyarakat mendukung program ini, masyarakat harus percaya. Ada yang tanya mengatasi DBD kok malah menyebar nyamuk? Ini lah yang disebut teknologi Wolbachia yang sudah diteliti efektivitasnya,"

Sementara itu Project Leader WMP Yogyakarta dr. Adi Utarini menyatakan sekitar 19.437 ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia akan dititipkan di hunian masyarakat dan fasilitas umum yang akan  menjadi orang tua asuh (OTA) ember tersebut.

Selama kurang lebih 6 bulan ke depan harapannya nyamuk ber-wolbachia yang keluar dari ember tersebut akan kawin dengan nyamuk lokal dan menghasilkan keturunan yang sudah ber-wolbachia.

"Penelitian yang kami lakukan di kota Yogyakarta pada 2020 silam, kita membagi menjadi dua wilayah, yang satu dengan Wolbachia yang satu program biasa. Dari situ kita mengetahui wilayah yang ada Wolbachia kasus dangue turun mencapai 77 persen," ungkapnya.

Baca juga: Atasi DBD dengan Nyamuk Ber-Wolbachia, Pemkab Bantul Luncurkan Program Wow Mantul

Perempuan yang akrab disapa Uut ini mengatakan bahwa apa yang dilakukan di Kabupaten Bantul saat ini sudah bukan lagi sebuah penelitian.

Pihaknya sudah menerapkan teknologi ini secara luas.

"Insyaallah di 11 Kapanewon, 38 desa akan bertahap kita titipi ember. Baru setelah nyamuk ber-wolbachia ada di Bantul, harapannya kasus dangue menurun karena sudah kawin dengan nyamuk setempat," terangnya.

Adapun, penitipan ember nyamuk telah dimulai pada 23 Mei kemarin, dan akan berlangsung sekitar 6 bulan, sampai dengan November 2022.

Setiap 2 minggu sekali, kader kesehatan akan mengganti ember dengan telur nyamuk dan makanan nyamuk yang baru.

Harapannya dalam periode tersebut, nyamuk bisa berkembang biak dan menetap di area pelepasan, sehingga nantinya akan mencegah penularan DBD .

Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budiraharja, menyampaikan bahwa selama ini kasus DBD di Bantul seringkali menempati posisi teratas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bergantian dengan wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta.

Dari data Dinkes Bantul, tahun 2021 di Kabupaten Bantul terdapat 410 kasus DBD dengan pasien yang meninggal satu orang.

Kemudian di tahun ini, data hingga Mei 2022 terdapat 403 kasus DBD dan tidak ada pasien meninggal karena penyakit ini.

Baca juga: Nyamuk ber- Wolbachia Dinilai Efektif Turunkan Kasus Demam Berdarah di Kota Yogyakarta

"Teknologi Wolbachia digadang menjadi salah satu strategi yang akan melengkapi upaya pengendalian DBD di Bantul. Wolbachia sebagai bakteri alami yang ditemukan pada 60 % serangga ini, mampu bekerja menghambat replikasi virus dengue pada tubuh nyamuk Aedes Aegypti, sehingga mencegah penularan virus dengue ke tubuh manusia," tuturnya.

Ia berharap masyarakat yang menjadi orang tua asuh ember nyamuk ber-wolbachia dapat menjadi orang tua yang turut menjaga dan memantau kondisi ember, agar tetap aman, tidak tumpah, bahkan hilang.

"Kita coba evaluasi tahun depan karena berdasarkan penelitian, setahun kita bisa memetik hasil dari manfaat dari penanaman Wolbachia ini," ucapnya.

Meski ada teknologi ini, ia pun tetap mengimbau masyarakat untuk tetap menjalankan program pengendalian DBD yang sudah ada.

"Walaupun sudah diimplementasikan teknologi Wolbachia, warga tetap perlu menjalankan upaya pengendalian dangue yang sudah ada seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 4M plus, gerakan 1 rumah 1 jumantik dan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)," tutupnya.( Tribunjogja.com )
 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved