Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY
Mengelola Kesehatan Mental
Manusia sebagai penghuni planet bumi ini adalah makhluk yang paling sempurna strukturnya.
Ayat ini menekankan bahwa laki-laki dan perempuan mendapat pahala yang sama dan bahwa perbuatan baik harus dilandasi iman. Termasuk di antaranya, malu berbuat sesuatu yang tidak pantas adalah bagian daripada iman, (al-haya’u minal iman)
Kedua, membebaskan diri dari penyakit hati. Penyakit hati yang menghinggapi manusia merupakan sumber gangguan mental. Di antara penyakit hati, yaitu: dengki, iri hati, dendam, buruk sangka, pamer, dan sombong. Dalam hadits dikatakan: “waspadalah terhadap iri hati (hasad), karena iri hati itu memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. (HR. Abu Dawud).
Ketiga, menerima takdir Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan dalam kondisi yang menyenangkan ada pula kondisi yang menyedihkan. Manusia dalam kehidupannya dituntut untuk dapat mengelola kesedihan yang menimpanya untuk menjadi sesuatu yang diterima sebagai suatu kenyataan (takdir). Manusia harus selalu melihat dibalik musibah ada hikmah. Dalam hadits dikatakan: “siapa yang Allah kehendaki memperoleh kebaikan, maka ia diberi cobaan”. (HR. al-Bukhari)
Keempat, mensyukuri atas karunia Allah. Setiap orang memperoleh benefit dari hasil usahanya, dan boleh jadi setiap orang-berbeda-beda atas karunia rezekinya. Orang yang mensyukuri atas karunia Allah sesungguhnya adalah manusia yang kaya dan merdeka.
Masih banyak lagi ciri-ciri kesehatan mental yang perlu kita lakukan sebagai nutrisi atas ruh kita untuk menjadi hamba yang mulia.Seperti senang memberi dari pada menerima, menjalin hubungan baik antar manusia, memiliki kepekaan sosial dan lain sebagainya.
Pesan Rasullah SAW yang perlu kita ingat: “khiorunnas ahsanuhum khuluqon”, (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik akhlaknya). Wallahu ‘alam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/abdel-baseer-ldnu-diy-ok.jpg)