Mutiara Ramadhan Tribun Jogja LDNU DIY

Mengelola Kesehatan Mental

Manusia sebagai penghuni planet bumi ini adalah makhluk yang paling sempurna strukturnya.

Editor: ribut raharjo
Istimewa
Abdel Baseer, Ketua LKSA Darul Hadlonah NU Bintan Sa’adilah al-Rasyid 

Oleh: Abdel Baseer, Ketua LKSA Darul Hadlonah NU Bintan Sa’adilah al-Rasyid

TRIBUNJOGJA.COM - Manusia sebagai penghuni planet bumi ini adalah makhluk yang paling sempurna strukturnya.

Ia terdiri dari dua aspek yaitu: jasad dan ruh, yang melakukan sinergi membina dan menopang kehidupan.

Keduanya dipertemukan di awal penciptaan sebagai salah satu makhluk hidup, dan kemudian menerima amanah sebagai khalifah fil ardh untuk memakmurkan bumi.

Pada penciptaan awal, manusia dibentuk dari tanah (turab, thin, hamain masnun, dan shalshal).

Kita bisa membaca term-term tersebut dalam QS. Ali Imran: 59, QS. al-Sajadah: 7, QS. al-Hijr: 26, dan QS. al-Rahman: 14.

Penciptaan manusia dalam proses yang kreatif dan kemudian ditiupkan padanya ruh oleh Allah SWT.

Manusia adalah makhluk yang berbicara, sedang hewan seperti kuda, makhluk yang meringkik. Dari pandangan ini dapat dipahami bahwa berbicara merupakan artikulasi dari gabungan potensi olah pikir.

Alhasil, berpikir hanyalah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia, dengan segala keunikannya yang lain, dan tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain. Dalam bahasa al-Qur’an potensi ini terangkum dalam kata “ruh”.

Dalam QS. al-Hijr: 28-29 Allah menegaskan tentang terciptanya manusia secara utuh: “Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan(nafakhtu) ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved