Berita Bantul Hari Ini
Asap Cair Hasil Inovasi Warga Bantul Mampu Memulihkan pH Tanah
Praktisi agribisnis, Budi Santosa yang merupakan warga Tegal Malang, Dusun Grujugan, Kalurahan Bantul, Kapanewon Bantul mengembangkan alat pengasapan
Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Praktisi agribisnis, Budi Santosa yang merupakan warga Tegal Malang, Dusun Grujugan, Kalurahan Bantul, Kapanewon Bantul mengembangkan alat pengasapan dengan bahan baku sekam.
Alat tersebut menghasilkan cairan atau disebut asap cair yang memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaatnya adalah untuk menyuburkan Lahan pertanian.
Ditemui di rumahnya yang disebutnya rumah mandiri pangan, Budi Santosa dirinya mengembangkan alat destilasi asap cair atau alat penyulingan di mana bahan baku yang digunakan adalah limbah sekam.
Alat tersebut dibuat dengan bahan yang terbilang murah seperti tong untuk pembakaran sekam, pipa, tabung bekas kulkas, ember dan air.
Baca juga: Sopir Truk Pelaku Tabrak Lari Pesepeda di Wedi Klaten Ditangkap Polisi
asap cair dapat diperoleh melalui proses pemanasan dan pembakaran secara tidak langsung yang disebut pirolisis dengan suhu akhir mencapai 4.000C.
"Dari tiga karung sekam, satu sekam 20 kg, kami bakar 24 jam akan menghasilkan 8 liter asap cair," ungkapnya, Rabu (19/1/2022).
asap cair yang diperoleh dari proses ini mempunyai warna hitam pekat karena terdapat kandungan tar.
Untuk menghilangkan kandungan tar tersebut, asap cair akan didiamkan kurang lebih 48 jam kemudian dilakukan proses penyaringan menggunakan kertas saring.
Hasil saringan tersebut kemudian dimurnikan kembali melalui proses pemurnian yang disebut distilasi dengan suhu 1.200 derajat celcius untuk menghasilkan suatu asap cair yang murni.
asap cair tersebut telah dilakukan pengujian di laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM dan dari sana diperoleh data, asap cair tersebut mengandung 4,00 pH dan beberapa kandungan lainya seperti kalium dan kalsium.
"Karena salah satu kendala yang dihadapi petani adalah keasaman tanah, dan saya juga orang pertanian, maka saya pakai untuk menyuburkan, menstabilkan pH tanah. Dalam satu jam, tanah yang disemprotkan cairan ini pH-nya akan naik dari 4 bisa naik jadi 6," ujar pria yang juga menjabat Kepala UPTD Balai Benih Pertanian (BBP) Barongan.
Cara pemakaiannya adalah dengan melarutkan 10 ml asap cair per 1 liter air lalu semprotkan.
asap cair ini dapat digunakan untuk tanaman semusim atau tanaman tahunan. Untuk hortikultura disemprotkan 7 hari sekali, sedangkan untuk tanaman tahunan, 1 bulan sekali
Adapun keunggulan produk ini adalah sebagai pupuk tunggal pada tanaman semusim / tahunan dan pada media persemaian.
asap cair ini juga dapat dicampurkan dengan jenis pupuk organik, hayati, dan jenis pestisida. Mengandung umid acid alami sehingga menetralkan pH tanah dan air.
"Meningkatkan produksi hasil panen, meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian, membuat bulir padi bernas, dan sebagai bahan antiseptik dan antibiotik berguna untuk pestisida organik," urainya.
Adapun asap cair yang digunakan untuk pertanian merupakan liquid hasil destilasi dengan grade 2. Dirinya pun juga melakukan pemurnian sehingga menghasilkan cairan grade 3 yang lebih bening dan dapat digunakan sebagai bahan pengawet makanan.
Baca juga: DPRD Kulon Progo Terbitkan Perda Kabupaten Layak Anak Saat Marak Kasus Pelecehan Seksual
"Grade 3 mengandung dapat bisa menghilangkan bau dan sebagai bahan pengawet juga bisa anti rayap untuk bidang industri," katanya.
Dirinya pun telah membuat asap cair versi tepung yang bisa digunakan untuk mengawetkan mi atau bahan makanan lainnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat membantu para petani dalam menggarap lahannya, terlebih saat ini pemerintah tengah menggencarkan sistem IP 400 atau masa tanam empat kali dalam satu tahun. Dengan IP 400 maka kesuburan tanah akan semakin menipis, namun dengan inovasi asap cair tersebut para petani dapat menghasilkan panen yang maksimal dan masa tanam yang lebih singkat yakni 75 hari.
"Rencananya memang produk ini akan saya komersilkan, namun untuk sementara hanya digunakan untuk kalangan sendiri," tandasnya. (nto)