Puncak Kasus Omicron Diprediksi Terjadi Februari, Epidemiolog UGM: Daerah Wisata Harus Bersiap 

Pemerintah Indonesia telah memprediksi puncak penyebaran Covid-19 varian Omicron terjadi pada bulan Februari hingga Maret 2022.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
dok. tribunnews
Ilustrasi Varian Omicron 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Indonesia telah memprediksi puncak penyebaran Covid-19 varian Omicron terjadi pada bulan Februari hingga Maret 2022.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menkomarinves) Luhut Binsar Pandjaitan juga telah meminta masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes).

Ia mendesak masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan membatasi pertemuan yang tidak mendesak.

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama MPH PhD mengatakan dirinya sependapat dengan prediksi pemerintah tersebut.

Baca juga: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Minta Museum Perkuat Narasi untuk Koleksi

Maka, daerah yang menjadi destinasi wisata dan memiliki mobilitas antar daerah tinggi juga perlu bersiap.

“Penularan tidak hanya terjadi di Jakarta, di daerah wisata atau yang punya tingkat mobilitas tinggi juga harus waspada. Harus tingkatkan kembali kemampuan 3T dan isolasi terpusat,” ujarnya, Selasa (18/1/2022).

3T yang dimaksud adalah testing atau pemeriksaan, tracing atau pelacakan dan treatment atau perawatan.

Menurutnya, 3T yang ketat akan menekan jumlah penyebaran Covid-19 ke tingkat yang lebih minimal.

“Hal ini dikarenakan daerah dengan mobilitas tinggi seperti daerah tujuan wisata mempunyai potensi terjadi peningkatan kasus akibat peningkatan mobilitas saat libur Natal dan Tahun Baru beberapa waktu lalu," ungkapnya.

Baca juga: Target PAD UPT PKB Dishub Gunungkidul Tercapai 107,09 Persen di 2021

Bayu menambahkan, gejala varian Omicron memang terbilang lebih ringan dari Delta.

Prediksi pasien di gelombang ketiga nanti pun tidak setinggi di pertengahan tahun 2021.

Meski begitu, ia meminta masyarakat dan pemerintah tetap waspada lantaran Omicron menjadi varian yang lebih cepat menyebar.

“Dugaannya, pasien Covid-19 seperti gelombang pertama. Itupun dengan hospitalisasi yang lebih rendah karena Omicron cepat menular namun tingkat keparahannya dibawah Varian Delta,” paparnya lagi. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved