Breaking News:

Varian Delta Plus Virus Corona Terdeteksi di Malaysia, Pakar UGM: Pemerintah Perketat Perbatasan

Munculnya varian baru virus corona yang diberi nama Delta Plus atau AY.4.2 harus diwaspadai oleh pemerintah Indonesia.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Free/crowf
ILUSTRASI Covid-19 varian Delta Plus 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM - Munculnya varian baru virus corona yang diberi nama Delta Plus atau AY.4.2 harus diwaspadai oleh pemerintah Indonesia.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Gunadi SpBA PhD berpendapat, pemerintah harus tetap memperketat keluar masuknya masyarakat di perbatasan.

Apalagi, varian virus Delta Plus ini sudah terdeteksi di Malaysia dan Singapura, negara tetangga Indonesia, sejak beberapa waktu lalu.

“Pencegahan penyebaran varian apapun, termasuk AY.4.2 ini sama saja, dengan jaga jarak, cuci tangan, pakai masker. Mestinya, pemerintah sudah antisipasi termasuk kaitannya dengan perbatasan antar negara,” jelas Gunadi, Selasa (16/11/2021).

Dia menjelaskan, AY.4.2 ini merupakan hasil mutasi alamiah yang terjadi pada virus SARS-CoV-2. 

Baca juga: Satpol PP DIY Temukan 26 Titik Sempadan Irigasi Beralih Fungsi, Ada Sanksi Pidana Bagi Pelanggar

Namun demikian, hasil mutasi tidak selalu lebih berbahaya. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan Delta Plus lebih ganas ataupun mudah menular dibandingkan varian induknya, Delta (B.1.617.2).

Gunadi menyebutkan, sampai saat ini belum ada bukti riset soal tingkat keganasan varian ini lebih berbahaya dari dari varian Delta.

“Otoritas Kesehatan Inggris juga baru menggolongkannya menjadi Variant Under Investigation, belum VOI ataupun VOC,” paparnya.

Soal kenaikan lonjakan penularan kasus Covid-19 di Inggris dan sejumlah negara Eropa belakangan ini, menurutnya, belum tentu disebabkan oleh varian tersebut.

Sebab, kenaikan penularan juga dipicu oleh longgarnya penerapan pembatasan dan protokol kesehatan. 

Baca juga: Hujan Deras di Kulon Progo Akibatkan Longsor di 4 Titik

“Tergantung banyak faktor, salah satu faktor yang penting adalah bagaimana aktivitas masyarakat khususnya prokes,” ujarnya.

Menurutnya, protokol kesehatan harus diperkuat dalam segala aktivitas kegiatan di masyarakat hingga tercapainya kekebalan komunal.

Sepanjang Covid-19 belum terkendali dan imunitas kelompok belum terbentuk, prokes ketat dan pembatasan kegiatan warga tetap perlu diutamakan oleh pemerintah. 

“Kuncinya satu, prokes. Sampai kapan? sampai kekebalan komunal tercapai,” pungkasnya. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved