Breaking News:

PPKM Level 4

Dana Simpanan Semakin Menipis, Ribuan Pelaku Wisata Gunungkidul Terdampak Kebijakan PPKM

Dispar Gunungkidul memperkirakan ada ribuan pelaku wisata di wilayahnya terdampak kebijakan PPKM level 4.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Alexander Ermando
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Asti Wijayanti 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul memperkirakan ada ribuan pelaku wisata di wilayahnya terdampak kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4. Bahkan, jumlahnya disebut lebih banyak ketimbang dampak penutupan wisata di masa awal pandemi Covid-19 pada 2020 silam.

Kepala Dispar Gunungkidul, Asti Wijayanti mengatakan, pada 2020 lalu, ada lebih dari 7 ribu pelaku wisata yang terdampak secara ekonomi. "Kali ini kemungkinan lebih banyak yang terdampak," kata Asti ditemui di Sekretariat Daerah (Setda) Gunungkidul, Rabu (4/8/2021).

Ia menjelaskan, salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya simpanan finansial. Saat penutupan di awal pandemi, pelaku wisata masih bisa bertahan hidup selama 3-4 bulan dengan simpanan dana yang dimiliki. Namun, hantaman gelombang kedua pandemi tahun ini rupanya sudah berpengaruh pada kemampuan finansial mereka.

Menurut Asti, simpanan dana para pelaku wisata sudah menipis sedangkan kini aktivitas pariwisata kembali ditutup. "Apalagi, setelah kembali dibuka untuk uji coba, sudah ada perbaikan, tapi pemasukan belum sepenuhnya normal," jelasnya.

Asti mengungkapkan bahwa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berencana menggelontorkan bantuan pemuluhan wisata senilai Rp2,4 triliun. Gunungkidul termasuk satu dari sekian daerah di Indonesia yang berkesempatan mendapat stimulus tersebut. Namun, jumlah sasaran hingga bentuknya disebutkan masih dalam pembahasan.

"Pastinya bukan tunai, tapi diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang mendorong wisata lebih siap saat akan dibuka kembali," kata Asti sembari menyebut bahwa tahun lalu pihaknya pernah menyalurkan bantuan logistik permakanan bagi 2.777 penerima di sektor wisata.

Dinas Sosial Gunungkidul juga mengupayakan adanya bantuan sosial bagi para pekerja informal pedagang, nelayan, hingga pekerja di bidang pariwisata. Tahun lalu, bantuan serupa muncul dengan mengambil dana dari APBD Gunungkidul. Namun, usulan kali ini belum ada titik terang.

Kepala Bidang (Kabid) Kesejahteraan Sosial, Dinsos Gunungkidul, Hadi Hendra Prayoga memastikan usulan bantuan sudah disampaikan ke Sekretaris Daerah (Sekda) Gunungkidul Drajad Ruswandono. "Sudah kami sampaikan ke beliau selaku Ketua TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah)," kata Hendra.

Menurutnya, Sekda juga akan menyampaikan usulan tersebut ke Sekda DIY. Hendra mengatakan skema dari penyaluran bantuan bagi sektor informal tersebut sudah direncanakan, meski nominal dan sebagainya masih perlu dibahas lebih lanjut. "Skema dan model penyaluran bisa berbeda dengan bantuan sosial tunai (BST) dari pusat," jelasnya.

Bersabar
Adapun pada Rabu kemarin, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta didampingi Kepala Dinpar setempat menghadiri audiensi dengan perwakilan pelaku wisata yang mengharapkan ada solusi dari penutupan wisata dalam kebijakan PPKM Level 4. Sunaryanta menjelaskan, keputusan penutupan diambil mengikuti instruksi pusat, dengan alasan faktor kesehatan masyarakat saat ini lebih diutamakan dalam situasi pandemi Covid-19.

"Harapannya, kalau sektor kesehatan membaik, sektor lainnya juga menjadi lancar," katanya.

Sunaryanta hingga Asti pun meminta pelaku wisata Gunungkidul untuk lebih sedikit bersabar. Pada sisi lain, pihaknya turut mengapresiasi pelaku wisata yang hingga kini masih bersedia mengikuti peraturan pemerintah.

Manajer Utama HeHa Sky View, Aprio Rabadi berharap pemberian insentif bagi pelaku wisata terdampak pembatasan kembali dilakukan, seperti saat awal pandemi. Ia juga meminta ada penjelasan rinci terkait aturan PPKM darurat, terutama dalam operasional restoran.

Sebab, saat ini sudah diperkenankan makan di tempat selama 20 menit asalkan tempatnya terbuka (outdoor).
"Kebetulan restoran kami dan rekan-rekan lain juga ada area terbuka, kami harap ada diskusi soal aturannya agar bisa beroperasi lagi," ujar Rio. (alx)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Kamis 5 Agustus 2021 halaman 04.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved