Kembang Kempis Hadapi Pandemi Covid-19, Pelaku Wisata Kuliner di Kaliurang Upayakan Inovasi
Hampir dua tahun lamanya perekonomian para pelaku wisata di Kawasan Wisata Kaliurang harus kembang kempis menghadapi pandemi Covid-19.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Hampir dua tahun lamanya perekonomian para pelaku wisata di Kawasan Wisata Kaliurang harus kembang kempis menghadapi pandemi Covid-19.
Tak ada yang tahu, kapan wabah akan berakhir. Padahal, ada perut yang harus diisi setiap hari agar tegar menghadapi realita.
“Sekarang kami hanya produksi sedikit-sedikit, hanya buat yang rumahan saja,” ungkap Ris Mulyono, pengurus sentra jadah tempe di Kawasan Tlogoputri Kaliurang, kepada Tribun Jogja, Kamis (29/7/2021).
Baca juga: Sejumlah Ibu Hamil di Kota Yogyakarta Meninggal Dunia Akibat Terpapar COVID-19
Jadah tempe memang menjadi salah satu buah tangan khas Kaliurang. Makanan yang memadukan jadah gurih dan tempe bacem manis itu membuat wisatawan kangen dengan cita rasanya.
Tidak heran, setiap ada kesempatan untuk berwisata ke daerah Kaliurang, jadah tempe tidak boleh luput dari daftar oleh-oleh tetap.
Ris tidak sendiri, ada puluhan pelaku wisata, khususnya wisata kuliner yang bernasib sama.
Kawasan Tlogoputri Kaliurang yang dulunya tak pernah sepi pengunjung, saat ini terlihat begitu lengang.
Di pos penjagaan, tidak tampak terlihat petugas penarik kontribusi lantaran kawasan itu memang ditutup selama pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
“Selama PPKM ini kami tidak jualan, tidak ada pemasukan. Kalau produksi, tidak ada yang beli, tapi kalau tidak produksi ya mau jualan apa,” tambah Ris.
Biasanya, dia dan produsen jadah tempe rumahan lain bisa memproduksi 5 kilogram jadah setiap hari. Angka tersebut tak bisa dicapai hampir dua tahun belakangan.
Tentu saja karena ketiadaan pengunjung.
Namun, Ris tidak mau berpangku tangan. Dia dan pelaku wisata lainnya tetap mencoba inovasi-inovasi agar jadah tempe itu bisa terjual tanpa pembeli harus datang ke Kaliurang.
“Inovasi itu penting ya saya kira. Makanan ini kan tidak tahan lama. Kami berusaha membuat ini tahan lama, sehingga bisa dijual daring,” bebernya.
Beragam cara sedang mereka tempuh, salah satunya melakukan sterilisasi agar jadah tempe tersebut awet.
Jika produk awet, maka akan mudah untuk dikirim kemanapun dengan menggunakan jasa pengiriman.
“Ya, harus dicoba dulu karena setelah dicoba, ada perbedaan rasa makan jadah tempe langsung di sini sama yang disterilisasi itu,” tambah Ris.
Menurutnya, faktor gula dan kelapa ternyata mempengaruhi rasa jadah tempe tersebut.
Maka, harus ada cara lain agar rasa tetap enak namun produk bisa dikirim dan dinikmati lebih banyak orang.
“Awalnya, bisa dibuat jadah goreng, tapi sekarang sulit mau jualan malam. Ya semoga pandemi ini segera berakhir, kami bisa bernapas lega lagi,” tandasnya.
Gerakan Kemanusiaan
Di tengah kondisi pandemi yang tak menentu ini, tim Gerakan Kemanusiaan Republik (GKR) Indonesia berupaya untuk membesarkan hati para pedagang di kawasan tersebut.
Membawa 800 paket sembako untuk warga setempat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi selaku Pembina GKR Indonesia merespons dampak sosial dari pandemi Covid-19.
“Situasi seperti ini, memang kita tidak bisa komplain dan protes karena yang terdampak ya semuanya. Maka, harus secepatnya bangkit dengan inovasi yang ada,” kata GKR Mangkubumi kepada wartawan.
Pihaknya berupaya untuk mendengarkan keluh kesah para pedagang dan membesarkan hati mereka bahwa apapun yang mereka sampaikan akan terdengar ke telinga pemimpin.
Baca juga: Bersimbah Darah, Bocah 16 Tahun di Sleman Ditemukan Meninggal Saat Ditinggal Pergi Orang Tuanya
“Yang penting sekarang masyarakat ini diberi sehat dulu. Mau tidak mau harus bangkit dengan inovasi apapun, seperti berjualan daring misalnya,” jelasnya.
Menurut GKR Mangkubumi, teknologi masa kini sudah bisa membantu berjualan daring. Maka, anak muda diharapkan bisa membantu orang tua berjualan daring dan mendapat pemasukan tambahan.
Sebab, kedatangan wisatawan pun belum bisa diharapkan hingga kini.
“Vaksinasi, kami usahakan ada lagi. Kami kemarin sudah minta, tapi di bulan Juli 2021 ini sudah habis. Semoga di bulan Agustus nanti sudah ada,” tutupnya. (ard)