BUKAN JAMINAN, Epidemiolog UGM Angkat Bicara Tentang Pemberian Vaksin Dosis Ketiga untuk Nakes
Tak ada jaminan vaksin dosis ketiga yang rencananya akan disuntikan kepada tenaga kesehatan akan mampu memberikan garansi para pejuang kesehatan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tak ada jaminan vaksin dosis ketiga yang rencananya akan disuntikan kepada tenaga kesehatan akan mampu memberikan garansi para pejuang kesehatan tersebut akan terbebas dari paparan Covid-19.
Hal tersebut yang diucapkan Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama SKed MPH.
Menurutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang menjadi penyebab kematian bagi nakes.
Baca juga: Hari Ini 37 Orang Meninggal karena Covid-19 di DI Yogyakarta, Angka Kasus Baru Tembus 1.809
“Bukti yang ada belum kuat bahwa dosis ketiga apakah ini diperlukan terutama untuk varian delta. Yang lebih penting adalah mengetahui dulu apa penyebab pasti nakes yang menurut asumsi sudah banyak yang mendapatkan vaksinasi tapi masih terkena dan angka kematian masih tinggi. Apakah memang efektifitas vaksin yang rendah atau ada penyebab lain,” kata Bayu, Jumat (9/7/2021).
Menurut Bayu bukti yang menunjukkan bahwa varian delta menyebabkan Covid-19 lebih parah dari pada varian sebelumnya masih sangat sedikit sehingga belum bisa disimpulkan varian ini lebih ganas.
Namun mengenai varian delta lebih menular dijelaskannya bukti sudah lebih kuat.
“Lebih menular ini yang menyebabkan kenapa lebih banyak kasus yang berat ketika varian delta muncul. Karena varian delta menyebabkan lebih banyak orang sakit dan hal ini akan berbanding lurus dengan meningkatnya orang yang bergejala sedang-berat. Jadi bukan karena variannya sendiri secara langsung,” tukasnya.
Selain itu, banyaknya kasus kematian ini disebabkan makin banyak kasus positif Covid-19 maka pasien yang membutuhkan perawatan juga meningkat padahal kapasitas rumah sakit tidak bisa bertambah dengan cepat akibatnya banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan di Rumah Sakit rujukan.
“Kondisi ini menyebabkan angka kematian meningkat,” paparnya.
Soal data Kemenkes yang menyebutkan sekitar 90 persen kasus kematian Covid-19 lebih banyak terjadi pada orang yg belum divaksinasi, menurut Bayu angka sebenarnya masih di bawah itu.
“Namun bagi saya masih cukup bagus untuk mengurangi fatalitas pada COVID-19,” katanya.
Baca juga: Dinas Perhubungan DI Yogyakarta Catat Jumlah Penumpang KRL dan Prameks Masih Tinggi
Bayu sependapat bahwa pemerintah tengah menggenjot program vaksinasi di tengah banyak warga yang enggan melakukan vaksin serta masih melonjaknya kasus dan kondisi banyaknya kamar khusus Covid-19 rumah sakit yang penuh.
“Saya setuju dengan langkah mempercepat vaksinasi yang seharusnya juga didukung dengan edukasi dan langkah pemberantasan info hoax agar orang semakin yakin untuk vaksin. Tapi info hoax ternyata menghambat proses peningkatan angka vaksinasi,” tegasnya.
Menurut Bayu SARS-CoV-2 tetap terus bermutasi sehingga perlu vaksin yang lebih baru lagi.
Bahkan semua vaksin yang ada saat ini dapat diperbarui sesuai dengan hasil penelitian yang ada.
“Apabila dinilai varian yang baru benar-benar dapat mengurangi signifikan kemampuan vaksin terhadap SARS-CoV-2 maka akan dibuat semacam booster untuk vaksin tersebut. Namun itu pun jika memang ada alokasi khusus yang tidak mengganggu vaksinasi secara umum maka bisa diberikan,” pungkasnya. (Rls)