Yogyakarta
Pelaku Wisata Siap Dukung Work From Jogja
Rencana program Work From Jogja yang digadang Dinas Pariwisata DIY diharapkan dapat mendongkrak pariwisata dan perekonomian di DIY.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
"Kerjanya kan siang, malam kita berikan insentif misalnya pertunjukan Ramayana atau apa. Bisa juga kita beri voucher makan di Malioboro, misal pecel lele. Tidak dithuthuk tapi justru didiskon,” jelasnya.
Terkait hal tersebut, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik dari apa yang telah dipaparkan oleh Sekda DIY.
Meski diakuinya, belum ada koordinasi atau pertemuan lebih lanjut antara pemda dan pelaku industri pariwisata dalam hal ini PHRI untuk mematangkan program Work From Jogja.
"Saya menyambut baik apa yang dikatakan Sekda, tapi kita butuh koordinasi lebih lanjut dengan pemda. Dan itu sangat bisa dilakukan," tuturnya.
"Kami sangat mendukung Work from Jogja, infrastruktur kami sudah siap kok. Baik sarana maupun prasarana, internet, ruang rapat maupun yang lain," ujarnya.
Namun demikian, ia menyatakan bahwa tidak hanya hotel dan restoran yang harus disiapkan untuk mendukung program ini, namun juga obyek wisata dan masyarakatnya juga.
Menurutnya, sebelum adanya program ini, sudah banyak perusahaan swasta maupun negeri yang datang ke Yogyakarta untuk bekerja.
Setidaknya para pekerja itu bisa mendongkrak okupansi hotel hingga 15 persen.
"Maka dari itu, Work From Jogja bisa jadi angin segar bagi kami. Harapannya, tidak ada lagi kebijakan pemerintah pusat yang berubah-buah dan mendadak, karena bisa menghancurkan apa yang sudah kita rencanakan," tambahnya.
Baca juga: Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemda DIY Rancang Program Work From Jogja
Sementara itu, Waka Bidang Pengembangan Produk Asita DIY Andri Supriatna Sasmita berharap program ini juga dapat menghidupkan kembali travel agent yang selama ini terdampak pandemi COVID-19.
Ia berharap, semua pelaku industri pariwisata bisa mendapatkan hasil dari program ini, tak hanya hotel atau destinasi wisata tapi juga industri perjalanan pariwisata.
"Karena Work from Jogja jika dikombinasikan dengan destinasi wisata, tentu butuh pelaku yang biasa di lapangan, seperti kita harus menyiapkan transportasi, menyiapkan program juga. Karena Work from Jogja tidak mungkin hanya direct, tiba-tiba datang ke suatu tempat, bekerja setelah itu langsung pulang," ujarnya.
Ia menyatakan seluruh anggota ASITA siap mendukung program ini, termasuk dalam hal menerapkan protokol kesehatan.
Misalnya membatasi penumpang di dalam satu kendaraan, termasuk menyediakan hand sanitizer, face shield, thermo gun dan masker.
"Harapannya Work From Jogja akan melibatkan semua industri yang ada di Joga," tutupnya.( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)