ADVERTORIAL

Tari Klasik Jawa Bedhaya Mintaraga Digelar untuk Kali Pertama 

Bedhaya Mintaraga diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sri Sultan sebagai bentuk piwulang (pengajaran). 

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Pementasan Tari Klasik Jawa Bedhaya Mintaraga 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Keraton Yogyakarta menggelar pertunjukan perdana Bedhaya Mintaraga pada Sabtu, 10 April 2021. 

Tarian ini dipersembahkan sebagai resepsi peringatan kenaikan takhta ke-32 (4 windu) dan ulang tahun ke-75 Sri Sultan Hamengku Buwono X berdasarkan tahun Masehi. 

Pementasan Bedhaya Mintaraga digelar tertutup dengan undangan terbatas yakni para penghageng, wakil penghageng, carik, kahartakan, serta perwakilan dari tepas dan kawedanan yang ada di Keraton Yogyakarta.   

‘Pamucal Beksa’ KHP Kridhomardowo, Nyi KRT Dwijosasmintomurti menjelaskan, Bedhaya Mintaraga diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sri Sultan sebagai bentuk piwulang (pengajaran). 

Baca juga: Bedhaya Mintaraga, Tarian Ciptaan Sri Sultan HB X Dipentaskan Hari Ini

Sedangkan Mintaraga adalah nama yang disandang tokoh pewayangan Raden Harjuna, saat sedang bertapa di Gua Indrakila. 

Penyematan gelar Mintaraga kepada Raden Harjuna tidak lepas dari mesu budi, yang bermakna usaha mengendalikan hawa nafsu, baik jasmani maupun rohani. 

"Bedhaya ini melambangkan Raden Harjuna sebagai kesatria sejati berpendirian teguh. Selain itu, kehadiran delapan istri Raden Harjuna menyimbolkan sifat-sifat kesatria," paparnya. 

Kedelapan istri Raden Harjuna meliputi Dewi Sumbodro yang menyimbolkan keteguhan darma kesatria; Dewi Larasati menyimbolkan penyatuan cipta, rasa dan karsa agar hidup menjadi selaras, sehingga terlaksana apa yang dijangkau; Dewi Srikandi menyimbolkan watak manusia, setiap perbuatan dan tindakan selalu dilandasi rasa kemanusiaan serta keadilan.

"Lalu Dewi Lestari menyimbolkan kekuatan manusia yang memahami kehidupan di dunia dan akhirat," paparnya.

Selanjutnya adalah Dewi Palupi, menyimbolkan perilaku dan ucapan yang benar, serta keadilan dan kebijaksanaan; serta Dewi Manuhara menyimbolkan keteguhan hati dan semua sifat unggul.

Baca juga: Sri Kayun Resmi jadi Tari Penyambutan Tamu di Kulon Progo

Kemudian Bidadari Drestanala yang menyimbolkan ketajaman dan kewaspadaan mata batin; serta Bidadari Supraba menyimbolkan manusia sempurna yang mampu menyingkap rahasia kesejatian manusia dan alam semesta.

Selain itu Bedhaya ini menggunakan iringan utama Gendhing Danasmara Laras Slendro Pathet Sanga, dibunyikan dari gamelan Kanjeng Kiai Surak. 

Para penari bedhaya mengenakan busana kampuh dan rias paes ageng layaknya pengantin putri gaya Yogyakarta

Walau pementasan Bedhaya Mintaraga di Kagungan Dalem Bangsal Kencana digelar terbatas, KHP Kridhomardowo telah menyiapkan rakit (kelompok) kedua berbusana rompen untuk menari di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti secara bersamaan dengan rakit pertama. 

Iringan gamelannya mendengarkan suara rekaman (relay) dari Bangsal Kencana. Pementasan tersebut disiarkan langsung melalui kanal Youtube Kraton Jogja sehingga masyarakat dapat ikut serta menyaksikan. 

Baca juga: Kolaborasi dengan Taruna Akmil, Sanggar Saraswati Siapkan Sendratari Sumambang

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved