Breaking News:

Kisah Petrus Adi Utomo, Pengamen Puisi di Parangtritis Hibur Wisatawan Lewat Untaian Kata-kata Indah

Selain membacakan puisi kepada pengunjung pantai, Petrus juga bersedia melukis wajah bagi siapapun yang berkenan untuk dilukis

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL HUDA
Pengamen puisi di Pantai Parangtritis seusai membacakan puisi untuk pengunjung, Sabtu (20/3/2021) 

Di usianya saat itu, dirinya juga sudah menulis beberapa puisi.

"Sejak umur 10 tahun saya sudah senang membaca puisi. Saya juga sempat menulis puisi anak waktu itu," kata Petrus.

Ia melanjutkan, semakin sering ia mengabdi ke beberapa gereja, keinginan Petrus untuk menghasilkan karya puisi kian menggebu.

Menurutnya, gereja menjadi basic hidupnya selama ini.

Dari beberapa kegiatannya di gereja itulah Petrus tidak khwatir meski pekerjaannya kini hanya sebagai pelukis sketsa dan pengamen puisi.

"Saya senang di gereja karena itulah basic hidup saya. Apa pun tanpa adanya sentuhan rohani hati kita akan kering. Kita tidak bisa mendorong orang lain jadi baik tanpa rohani kita yang baik," lanjut Petrus.

Baca juga: Kisah Pilu Huriyah Afiat, Bayi di Semin Gunungkidul yang Didiagnosis Alami Holoprosenchephaly

Baca juga: Kisah Pilu Alfian, Siswa SMK di Klaten yang Harus Kehilangan Kedua Tangan Saat Jalani PKL

Selain di pantai Parangtritis, ia juga sering ngamen puisi di Gunung Lawu.

Petrus mencoba menghibur para pendaki saat beristirahat di Cemoro Sewu.

"Asal ada orang duduk itu menjadi tempat saya mencari makan. Ya ini pekerjaan yang gak ada saingan, karena orang gak ada yang mau kayak gini," kata dia.

Per harinya sudah tak terhitung berapa bait puisi yang ia bacakan kepada pengunjung pantai Parangtritis.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved