Breaking News:

Kisah Petrus Adi Utomo, Pengamen Puisi di Parangtritis Hibur Wisatawan Lewat Untaian Kata-kata Indah

Selain membacakan puisi kepada pengunjung pantai, Petrus juga bersedia melukis wajah bagi siapapun yang berkenan untuk dilukis

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL HUDA
Pengamen puisi di Pantai Parangtritis seusai membacakan puisi untuk pengunjung, Sabtu (20/3/2021) 

"Wah sudah tak terhitung. Entah orang asing atau enggak, itu bukan urusan saya. Yang penting saya bisa menyampaikan ide. Ya kadang orang minta dibacakan puisi tentang cinta, macam-macam lah," tambahnya.

Pernah Dibayar Rp3 Juta

Menurut Petrus sebuah puisi dapat melampaui batas perasaan seseorang.

Hal itu ia buktikan saat dirinya membacakan satu puisi berjudul Kasih Melampaui Batas kepada perempuan asal Bali.

Saat itu perempuan yang menikmati bait-bait syair puisinya sampai meneteskan air mata.

Inti puisi yang ia bacakan kala itu berkisah tentang aborsi yang marak dilakukan oleh perempuan Indonesia.

"Jadi saya bacakan puisi itu yang intinya perempuan Indonesia kadang-kadang hamil begitu lahir diaborsi. Sedangkan di Kalimantan anak babi saja disusui. Saya ceritakan dalam puisi seperti itu," terang Petrus.

Rupanya perempuan yang sedang menikmati puisinya itu, lanjut Petrus adalah satu dari sekian pelaku aborsi.

"Saat itu juga perempuan itu menangis, karena ia sudah menikah umur 40 tahun dan sudah tidak hamil, tidak punya anak," jelas dia.

Karena karyanya itu mampu mejamah perasaan perempuan asal Bali itu, Petrus diberikan uang sebesar Rp3 juta atas karya terbaiknya itu.

"Selesai baca puisi, saya langsung dikasih uang Rp3 juta. Saya bacakan itu di Taman Suropati, Jakarta," ujarnya.

Bisa dibilang puisi sangat berpengaruh besar dalam kehidupan Petrus.

Ia mengaku bahwa puisi tak ubahnya sebagai pisau bermata dua.

Karena menurutnya, ketika seseorang menyiratkan nasehat lewat puisi namun orang tersebut tidak melaksanakan apa yang diucapkan, maka keburukan akan kembali pada diri sendiri.

"Menurut saya puisi adalah pisau bermata dua. Ketika saya menasehati orang, tapi saya tidak melaksanakan nasehat itu, puisi itu akan balik kepada kita," ungkap Petrus.

Baca juga: Kisah Bandar Narkoba yang Kini Bertobat dan Memilih Jalan Lurus, Begini Pengakuannya

Baca juga: Kisah Pria di Banyumas Yang Kena Sanksi Rp 150 Juta Karena Batalkan Pernikahan, Begini Ceritanya

Berdasarkan penelusuran reporter Tribun Jogja, Petrus juga aktif menulis di beberapa platform digital.

Namun sebelum aktif di media sosial, lika liku hidupnya cukup keras, hingga dirinya memutuskan untuk berpuisi di sisa usianya kini.

Keputusannya untuk menulis puisi dan melukis bermula ketika dirinya memutuskan untuk resign dari statusnya sebagai karyawan di salah satu kantor swasta di Jakarta.

"Bermula dari kondisi Deadlock (jalan buntu) dompet saya dicuri padahal baru dapat gaji. Lalu saya memutuskan lebih baik keluar saja dari perusahaan, karena betul-betul buntu. Target pekerjaan yang berat membuat saya keluar, dan mencari uang lewat puisi," jelas pria yang gemar mengenakan rosario di lehernya itu.

Sebagai penutup, Petrus pun meninggalkan syairnya kepada pembaca dengan judul Senja. 

Berikut kutipan salah satu puisi yang dibacakan Petrus Sabtu Sore kemarin.

Senja, Ku duduk di pantai disenja hari.

Kulihat warna warni lukisan ilahi yang selalu baru dan tak pernah usang.

Aku selalu takjub warna biru, hitam kemerahan dan kegelapan yang nyata di atas gunung.

Senja, ketika mentari menyemburkan warna merahnya, memberikan semangatnya yang tak henti-henti.

Senja, di situ jutaan lelaki dan wanita memberikan jiwa dan berpadu dalam asanya.

Senja, kau memberikan ingatan bahwa segala peristiwa akan ada kisah di senja itu.

( tribunjogja/ miftahul huda )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved