Kisah Petrus Adi Utomo, Pengamen Puisi di Parangtritis Hibur Wisatawan Lewat Untaian Kata-kata Indah
Selain membacakan puisi kepada pengunjung pantai, Petrus juga bersedia melukis wajah bagi siapapun yang berkenan untuk dilukis
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Berdasarkan penelusuran reporter Tribun Jogja, Petrus juga aktif menulis di beberapa platform digital.
Namun sebelum aktif di media sosial, lika liku hidupnya cukup keras, hingga dirinya memutuskan untuk berpuisi di sisa usianya kini.
Keputusannya untuk menulis puisi dan melukis bermula ketika dirinya memutuskan untuk resign dari statusnya sebagai karyawan di salah satu kantor swasta di Jakarta.
"Bermula dari kondisi Deadlock (jalan buntu) dompet saya dicuri padahal baru dapat gaji. Lalu saya memutuskan lebih baik keluar saja dari perusahaan, karena betul-betul buntu. Target pekerjaan yang berat membuat saya keluar, dan mencari uang lewat puisi," jelas pria yang gemar mengenakan rosario di lehernya itu.
Sebagai penutup, Petrus pun meninggalkan syairnya kepada pembaca dengan judul Senja.
Berikut kutipan salah satu puisi yang dibacakan Petrus Sabtu Sore kemarin.
Senja, Ku duduk di pantai disenja hari.
Kulihat warna warni lukisan ilahi yang selalu baru dan tak pernah usang.
Aku selalu takjub warna biru, hitam kemerahan dan kegelapan yang nyata di atas gunung.
Senja, ketika mentari menyemburkan warna merahnya, memberikan semangatnya yang tak henti-henti.
Senja, di situ jutaan lelaki dan wanita memberikan jiwa dan berpadu dalam asanya.
Senja, kau memberikan ingatan bahwa segala peristiwa akan ada kisah di senja itu.
( tribunjogja/ miftahul huda )