Jam Tangan Kayu Klaten Banjir Pesanan saat Pandemi COVID-19, Begini Kiatnya
"Selama pandemi kita memaksimalkan penjualan melalui sejumlah e-commerce yang ada. Hal itu ternyata membuat penjualan tetap bagus meski di tengah
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
Ia pun memindahkan tempat produksi yang awalnya di Yogyakarta ke Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Afidha belajar secara otodidak bagaimana cara memotong kayu dan membuat desain secara sendiri.
"Saya nggak ada keahlian sebenarnya di bidang perkayuan, tapi saya belajar secara otodidak sehingga bisa membuatnya," jelasnya.
Diakui Afidha, pernah pada suatu masa, dirinya bertindak sebagai pembuat dan penjual.
Hal itu karena belum adanya karyawan yang bisa ia pekerjakan karena masih memproduksi secara rumahan.
"Itu berlangsung selama hampir setahun mulai tahun 2016 sampai 2017 seperti one man show gitu. Semuanya dari membuat, memfoto, ngadmin media sosial hingga menjual aku sendiri," katanya.
Ia mengatakan menjelang akhir tahun 2017, barulah ia bisa mulai merekrut karyawan satu persatu.
Saat ini, Eboni Watch, kata dia telah mampu mempekerjakan karyawan sebanyak 17 orang.
"Jumlah 17 orang itu hanya 8 orang yang berada di bagian produksi. Sisanya tim admin penjualan online," imbuhnya.
Lanjutnya, 8 karyawan yang bekerja di bidang produksi itu bisa menghasilkan jam kayu hingga 1.200 unit perbulan.
Adapun untuk harga jual jam Eboni Watch, kata dia berkisar antara Rp.300 ribu hingga Rp1 jutaan.
"Saat ini kita sudah memiliki sekitar 35 model jam. Setiap tahun kita keluarkan minimal dua desain baru," ucapnya.
Disinggung terkait kemana saja jam tangan kayu itu dijual, diakui Afidha sudah mencapai banyak negara.
"Untuk luar negeri, ada pembeli dari Jepang, Korea Selatan, Prancis, Amerika Serikat hingga Afrika Selatan. Kalau negara Asia Tenggara sudah semuanya," tandasnya. (Mur)