Jam Tangan Kayu Klaten Banjir Pesanan saat Pandemi COVID-19, Begini Kiatnya

"Selama pandemi kita memaksimalkan penjualan melalui sejumlah e-commerce yang ada. Hal itu ternyata membuat penjualan tetap bagus meski di tengah

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan
Penampakan jam tangan kayu yang baru selesai produksi di ruang kerja Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021) 

Afidha pun berfikir untuk membuat sendiri jam tangan kayu tersebut dan menjualnya untuk kalangan menengah ke bawah.

Ia lalu membuat desain jam tangan kayu melalui sebuah aplikasi desain.

Kemudian ia membawa desain itu kepada salah seorang perajin kayu di Yogyakarta.

"Saya tanya ke perajin, apakah bisa buat jam kayu seperti desain saya itu. Ternyata bisa dan saya pesan untuk beberapa unit saja waktu itu," jelasnya.

Pada awal Januari 2015, lanjut alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu, setelah jam tangan kayu jadi dirinya iseng untuk menjual di salah satu platform media sosial.

Ia pun tidak menduga, tidak berapa lama setelah foto jam tangan kayu di unggah di media sosial respon pasar terkait dagangannya itu cukup bagus.

Uniknya, pembeli pertama dari jam tangan kayu hasil rakitan Afidha tersebut justru berasal dari Cape Town, Afrika Selatan.

"Yang buat berkesan itu ya pembeli pertama jam tangan kayu ini berasal dari Afrika Selatan. Dia sepertinya kolektor jam kayu," kenangnya.

Saat itu, Kata Afidha, pembeli asal Afrika Selatan itu memesan dua unit jam tangan kayu Eboni Watch tersebut.

"Saat aku jual per unitnya di bawah Rp1 juta. Tapi ongkirnya mahal, kalau nggak salah Rp600 ribuan,"ucapnya.

Selanjutnya, kata Afidha, hasil penjualan tersebut ia putarkan lagi untuk membuat jam tangan kayu pada tahun 2015 tersebut.

Seiring berjalannya waktu, ia pun menemui kendala di bidang produksi.

Baca juga: BREAKING NEWS: Diduga Kelelahan, Lansia Asal Playen Gunungkidul Ditemukan Tewas di Ladang

Saat itu, perajin kayu yang biasa bekerjasama dengan dirinya kesulitan dalam menyelesaikan pesanan jam kayu.

"Kita kan pesan seminggu, janjinya bisa selesai eh tahu-tahunya jadi dua minggu. Lalu, saat dipaksa bisa selesai seminggu ternyata hasilnya nggak bagus," urainya.

Mendapati fakta demikian, Afidha nekat untuk membuat sendiri jam tangan kayu tersebut.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved