Jam Tangan Kayu Klaten Banjir Pesanan saat Pandemi COVID-19, Begini Kiatnya

"Selama pandemi kita memaksimalkan penjualan melalui sejumlah e-commerce yang ada. Hal itu ternyata membuat penjualan tetap bagus meski di tengah

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan
Penampakan jam tangan kayu yang baru selesai produksi di ruang kerja Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Penjualan jam tangan kayu Eboni Watch milik pemuda asal Kabupaten Klaten tak terpengaruh oleh terjangan pandemi COVID-19.

Meski, dibanyak kasus pandemi melumpuhkan sejumlah sendi-sendi perekonomian, namun bisnis jam tangan kayu Eboni Watch Klaten justru semakin bertambah moncer.

Pemilik jam tangan kayu Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya mengatakan, keberhasilan meraup rezeki ditengah badai pandemi COVID-19 tentu tidak bisa dilepaskan dari tepatnya sistem pemasaran yang dipilih.

Baca juga: Terlalu Lama Kehilangan Jam Terbang, Sekelompok Musisi di Yogyakarta Turun ke Jalan

"Selama pandemi kita memaksimalkan penjualan melalui sejumlah e-commerce yang ada. Hal itu ternyata membuat penjualan tetap bagus meski di tengah pandemi," ujarnya saat ditemui Tribun Jogja, di ruang produksi Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021).

Ia menjelaskan, saat pandemi COVID-19 mulai masuk ke Indonesia pada Maret 2020 usaha yang sudah ia rintis sejak tujuh tahun lalu itu sempat menutup operasional selama satu bulan.

Waktu itu, kenang dia, sejumlah toko-toko tempat ia menitipkan jam tangan kayu yang tersebar di Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta dan Bali memilih menutup operasional.

Tak hanya itu, sejumlah pesanan dari sejumlah instansi pemerintah maupun swasta yang memesan jam tangan kayu itu juga membatalkan pesanan pada awal pandemi itu.

"Akibatnya penjualan menjadi macet dan kita masih produksi waktu awal-awal pandemi itu sehingga banyak pengeluaran," katanya.

Afidha Fajar Adhitya saat merakit jam tangan kayu Eboni Watch di ruang kerja Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021).
Afidha Fajar Adhitya saat merakit jam tangan kayu Eboni Watch di ruang kerja Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021). (TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan)

Kemudian, kata dia, produksi Eboni Watch akhirnya benar-benar tutup pada awal April 2020.

Setelah mendapatkan ide, kata dia, pihaknya saat itu memutuskan untuk kembali mulai berjualan dengan masuk ke platform e-commerce.

"Biasanya kita kan jualan lewat media sosial saja, waktu itu kita mulai serius masuk disejumlah e-commerce dan itu ternyata penjualannya juga bagus selama pandemi," jelas pemuda 31 tahun itu.

Ia merinci, penjualan jam tangan kayu sebelum pandemi COVID-19 mencapai sekitar 300 perbulan.

Sementara selama pandemi bisa menembus hingga 1.000 unit perbulannya.

"Saat penjualan selama pandemi mulai naik akhirnya karyawan mulai masuk satu persatu untuk produksi lagi dan bahkan juga nambah karyawan saat pandemi ini," ucapnya.

Masih menurut Afidha, saat ini dirinya memiliki sekitar 17 karyawan yang membantu operasional Eboni Watch Klaten.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved