Jam Tangan Kayu Klaten Banjir Pesanan saat Pandemi COVID-19, Begini Kiatnya
"Selama pandemi kita memaksimalkan penjualan melalui sejumlah e-commerce yang ada. Hal itu ternyata membuat penjualan tetap bagus meski di tengah
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
Sebanyak 17 karyawan itu, kata dia terbagi dalam beberapa tugas.
"Bagian produksi ada delapan orang dan sisanya untuk penjualan di e-commerce, mulai dari paketin jam hingga pemasarannya," katanya.
Kisah Awal Merintis Jam Tangan Kayu
Siapa menyangka jam tangan kayu yang dipakai oleh ratusan orang yang tersebar di sejumlah negara seperti Jepang, Prancis hingga Afrika Selatan berasal dari Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
Jam tangan kayu itu dirakit melalui tangan dingin seorang pemuda bernama Afidha Fajar Adhitya.
Pemuda berusia 31 tahun itu sudah 7 tahun merintis bisnisnya itu.
Ia memulai usahanya karena melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan di bidang tersebut.
Apalagi untuk Indonesia diyakini belum banyak perajin jam tangan kayu.
Mengusung nama Eboni Watch. Brand lokal tersebut menjelma menjadi salah satu kompetitor yang patut diperhitungkan oleh merek-merek dagang ternama lainnya.
Jam tangan kayu Eboni Watch buatan Afidha, memakai mesin jam yang ia pesan langsung dari Jepang.
Sementara untuk strap atau tali ia menggunakan kulit yang dipasok dari Yogyakarta.

Sedangkan kayu yang digunakan untuk bahan baku jam yakni kayu rosewood (sonokeling) dan kayu maple yang dibeli dari Surakarta.
"Ide awalnya saya buat jam tangan kayu ini karena memang sudah jatuh cinta dengan jam tangan kayu," ujar Afidha saat berbincang dengan Tribunjogja.com di ruang produksi Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021).
Menurut ayah dua anak itu, penghujung tahun 2014 dirinya ingin membeli jam tangan kayu.
Namun saat itu harga jam tangan kayu yang ada dipasaran harganya lumayan mahal, yakni masih di atas Rp1 juta.