Awan Panas Guguran Gunung Merapi Akibatkan Hujan Abu Tipis di Daerah Ini

gunung Merapi mengalami 3 kali awan panas guguran dengan estimasi jarak luncur maksimal 1.900 m ke arah barat daya.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA/ Setya Krisna Sumargo
MAKIN INTENS - Guguran material batu pijar (rock fall) Merapi terus berlangsung hingga Selasa (23/2/2021) dini hari. Pengamatan dan pemotretan sejak Senin (22/2/2021) sekira pukul 21.30 WIB hingga pergantian hari, terjadi belasan kali guguran. Arah guguran terbagi tiga jalur, utamanya ke arah hulu Kali Boyong dan Kali Krasak. Sementara jalur baru ke hulu Kali Sat dari GOR Kaliurang tidak bisa dilihat secara sempurna karena terhalang punggungan lereng. Namun guguran tersebut bisa dicermati dari pendaran warna merah serta kepulan asap dari balik punggungan sisi barat puncak 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

Tribunjogja.com Yogyakarta -- Sepekan terakhir, tepatnya 19-25 Februari 2021, Gunung Merapi mengalami 3 kali awan panas guguran dengan estimasi jarak luncur maksimal 1.900 m ke arah barat daya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menerangkan awan panas guguran tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 51 mm dan durasi 175 detik.

Menurut Hanik, awan panas guguran yang terjadi pada 25 Februari 2021 pukul 16.52 WIB mengakibatkan hujan abu tipis di Kali Tengah Lor, Kali Tengah Kidul, Deles, dan Tlukan.

"Visual yang cukup jelas dari kejadian awan panas guguran teramati pada tanggal 24 Februari pukul 06.31 WIB," imbuh Hanik.

Ia mengungkapkan, cuaca di sekitar Gunung Merapi pekan ini umumnya cerah pada pagi hari,
sedangkan siang hingga malam hari berkabut.

Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah.

Guguran material dari puncak Gunung Merapi, Kamis (18/2/2021)
Guguran material dari puncak Gunung Merapi, Kamis (18/2/2021) (Tribunjogja/Setya Krisna Sumargo)

Baca juga: Kisah-kisah Anak Adopsi Mencari Sang Orang Tua di Yogyakarta

Tinggi asap maksimum 400 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Ngepos pada 19 Februari 2021 pukul 06.40 WIB.

Selain itu, berdasarkan analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor barat daya tanggal 25 Februari terhadap tanggal 17 Februari 2021 menunjukkan adanya perubahan morfologi area puncak karena aktivitas guguran dan pertumbuhan kubah.

"Volume kubah lava di sektor barat daya sebesar 618.700 m3 dengan laju pertumbuhan 13.600 m3 hari," tuturnya.

Terkait aktivitas kegempaan Gunung Merapi, pekan ini tercatat 3 kali Awan Panas Guguran (AP), 14 kali gempa Fase Banyak (MP), 985 kali gempa Guguran (RF), 37 kali gempa Hembusan (DG) dan 5 kali gempa Tektonik (TT).

"Secara umum kegempaan internal pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu, sedangkan gempa di permukaan seperti gempa guguran meningkat dan munculnya awan panas guguran," jelas Hanik.

Sementara itu, berdasarkan deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM dan GPS, Hanik menuturkan, pada minggu ini tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan.

Pada minggu ini, terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 15 mm/jam selama 40 menit di Pos Ngepos pada 19 Februari 2021.

"Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," ungkap Hanik.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved