Cerita Ponpes Al-Fatah Bantul yang Ditinggali Para Waria Saat Corona Melanda

Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Shinta Ratri, pemilik ponpes tersebut terlihat asik mengobrol dengan dua rekan

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA/ Ardhike Indah
Pemilik (tengah) dan Anggota Ponpes Waria Al-Fatah saat berbincang dengan Tribun Jogja 

Rintik hujan yang turun sedikit demi sedikit menambah dingin semilir angin berhembus di pelataran Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Shinta Ratri, pemilik ponpes tersebut terlihat asik mengobrol dengan dua rekan warianya sembari menikmati hujan. Meski wajahnya tertutup masker, namun nada suaranya yang riang menunjukkan tidak ada keresahan berarti di tengah pandemi virus corona.

Shinta Ratri, Ketua Ponpes Waria Al Fatah, Kotagede, Yogya, Senin (12/10/2015).
Shinta Ratri, Ketua Ponpes Waria Al Fatah, Kotagede, Yogya, Senin (12/10/2015). ()

Para waria yang bergabung di ponpes itu tetap terkena dampak Covid-19, khususnya secara perekonomian.

Kegiatan mereka yang sehari-hari mengamen, mencari uang di jalan cukup berubah drastis.

Banyak kesulitan menghadang.

Akan tetapi, simpul jaring pengaman sosial waria cukup kuat sehingga mereka tetap bisa berdiri tegak di masa yang tidak pasti.

Di masa seperti ini, mereka mengandalkan satu sama lain agar tetap bisa melanjutkan hidup meski kurang diperhatikan pemerintah.

“Sejak awal, kami memang tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah karena kami tahu, pemerintah juga kewalahan menghadapi Covid-19 ini,” ungkap Shinta kepada Tribun Jogja, Selasa (16/2/2021).

Shinta tidak marah dengan absennya pemerintah untuk memenuhi hak hidup waria.

Segenap anggota di ponpes itu paham, masyarakat pada umumnya saja masih sulit mengakses bantuan dari pemerintah, apalagi mereka yang minoritas.

“Kami bener-bener enggak njagakke dari pemerintah. Kami gerak sendiri bersama komunitas,” terangnya.

Ia justru bersyukur, hingga kini masih banyak komunitas yang memperdulikan nasib transpuan meski bukan kewajiban mereka.

“Komunitas ini ada untuk kami. Akademisi, umat gereja, jemaah masjid, AJI, LBH, NU, semuanya ikut bantuin kami,” tutur Shinta.

Bantuan yang diberikan pun bermacam-macam, ada yang berupa sembako, ada juga yang berupa dana untuk membayar kos-kosan dan memenuhi biaya hidup.

Sejumlah bantuan itu tidak ia terima untuk diri sendiri atau hanya untuk waria saja, namun tetap dibagikan ke masyarakat yang membutuhkan.

“Misal, masyarakat di dekat ponpes ini membutuhkan, ya kami bantu. Bantuannya juga berupa sembako. Bisa juga kalau ada orang membutuhkan di dekat komunitas waria Bantul, pasti akan dibantu. Kami berusaha ikut merangkul semua orang juga biar sama-sama gitu,” ucapnya menjelaskan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved