Cerita Ponpes Al-Fatah Bantul yang Ditinggali Para Waria Saat Corona Melanda
Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Shinta Ratri, pemilik ponpes tersebut terlihat asik mengobrol dengan dua rekan
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Iwan Al Khasni
Menjaga Prokes
Protokol kesehatan (prokes) menjadi hal penting yang harus diikuti oleh para waria.
Sebab, sebagian besar kerja mereka berada di lapangan dan tidak bisa dilakukan dari rumah.
Ponpes Al-Fatah itu sempat memberikan kesempatan bagi para waria untuk mengungsi di situ setelah pemerintah mengumumkan kasus pertama corona.
Seiring berjalannya waktu, ternyata pandemi ini tidak segera selesai. Sehingga, satu per satu dari mereka kembali ke tempat masing-masing.
“Kita itu sudah menyediakan sikat gigi, handuk semuanya, ternyata pandeminya setahun juga tidak selesai. Beberapa minggu di sini, mereka pada enggak betah karena harus bekerja,” kata Shinta terkekeh.
Masker pun selalu mereka gunakan di jalan, selain untuk menghindari terkena Covid-19, juga menghindari dikejar-kejar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
“Tapi sekarang Satpol PP enggak ngejar kita sih, harus jaga jarak kan, kita semua takut kena corona juga” timpal Jamila yang sejak tadi ingin menimbrung pembicaraan.
Jamila adalah salah satu dari waria yang terdampak pandemi.
Sehari-hari, pekerjaannya adalah pengamen dan pendapatannya turun drastis.
Dugaan Jamilah, orang-orang pada enggan memberi karena perekonomian juga sulit dan harus menjaga jarak dengan siapapun.
“Mungkin nanti bisa aku pakai QR Code bayar pengamen via GoPay gitu kali ya,” katanya lagi sembari tertawa.
Cerita Jamila di masa pandemi cukup unik.
Ia sempat tidur di sekitaran Tugu Pal Putih untuk mendapatkan nasi boks demi menyambung hidup.
Di awal pandemi menerjang, ada banyak orang yang begitu tergugah rasa simpatinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemilik-tengah-dan-anggota-ponpes-waria-al-fatah-saat-berbincang-dengan-tribun-jogja.jpg)