Warga Bantaran Kali Code Yogyakarta Lebih Khawatirkan Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi

Warga bantaran Kali Code Yogyakarta lebih khawatir terhadap ancaman banjir lahar dingin atau lahar hujan dari Gunung Merapi

Tayang:
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Rendika Ferri
Warga di bantaran Kali Code, Kota Baru, Kota Yogyakarta, menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan bencana banjir, Selasa (2/2/2021). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Warga bantaran Kali Code Yogyakarta lebih khawatir terhadap ancaman banjir lahar dingin atau lahar hujan dari Gunung Merapi ketimbang banjir biasa.

Besarnya aliran air dan material pasir dan batuan yang terbawa sungai dinilai mengancam warga yang tinggal di pinggir sungai.

"Yang besar itu 2010. Tahun 2010 itu Gunung Merapi meletus, kita dapat kiriman banjir lahar dingin itu penuh pasir dan bau belerang kalinya. Kita mengungsi semua. Itu lebih dikhawatirkan warga," kata Chandra, warga dan sekretaris RT 01/RW 01, Kampung Code, Kotabaru, Kota Yogyakarta, Selasa (2/2/2021).

Baca juga: Pemilik 85 Bidang Tanah Terdampak Tol Yogya-Solo di Desa Sidoharjo Klaten Terima Uang Ganti Rugi

Baca juga: BREAKING NEWS: Lansia Tewas Tenggelam di Telaga Serpeng Semanu Gunungkidul

Menurut Chandra, warga sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana banjir itu terjadi.

Selama ini, banjir luapan air dari Kali Code tak sampai meluap ke rumah warga setelah talud di pinggir tempat tinggal warga ditinggikan.

Sehingga untuk banjir, warga tak terlalu was-was.

"Kalau banjir, tak sampai meluap ke rumah warga. Itu di bawah talud, batas talud semua airnya. Ketinggian sekitar 1,5 meter. Dari pemerintah ini, dulunya tinggi talud ini cuma 1 meter dinaikkan lagi menjadi 2,5 meter. Efektif. Kalau dulu satu meter itu riskan karena pas 2010, airnya meluap yang selatan dan sebelah barat, jadi jebol tanggulnya. Ini sekarang sudah dinaikkan sudah aman," tuturnya.

Senada dengan Chandra, Tri Astuti (34), yang juga warga Kampung Code, RT 01/ RW 01, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, juga lebih mengkhawatirkan banjir lahar dingin.

Pasalnya, ia dan keluarga mengalami sendiri saat banjir lahar dingin terjadi pada tahun 2010 lalu.

Rumahnya yang ada di bantaran Kali Code di bawah Jembatan Gondolayu tersebut sudah kemasukan air, sehingga ia bersama suami dan dua anaknya harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Banjir membawa material pasir dan batu, sementara talud tak mampu menahan besarnya arus sungai.

"Kalau banjir biasa, kelihatannya tak banjir sampai atas. Terakhir kali itu Merapi itu. Lahar dingin tahun 2010. Rumah saya hampir hanyut, masuk air. Kami sudah diberitahu dari atas (hulu sungai), terus mengungsi. Kami mengungsi ke atas. Biasanya tim sar sudah tahu, airnya sampai mana dan diinformasikan ke warga," ujarnya.

Wanita yang akrab dipanggil Tutik ini masih trauma dengan banjir lahar dingin dulu, terlebih saat ini  Merapi sedang aktif.

Dibandingkan dengan banjir biasa, menurutnya air tidak akan naik tinggi dan talud sudah bisa menahannya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved