Kisah Perjuangan Fitri, Guru SD di Yogyakarta yang Fasilitasi Pembelajaran Selama Pandemi

Dengan mengenakan baju bebas dan tas di pundak, beberapa anak datang satu per satu ke Perpustakaan Alternatif Wilayah Selatan Kota Yogyakarta

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Maruti Asmaul Husna
Guru SD Muhammadiyah Danunegaran, Fitri Afrika Sari, ditemui seusai mengajar di ruang Rebecca Pevita. 

"Jadi setelah itu tetap ada lanjutan tugas di rumah, seperti percobaan-percobaan, tapi saya jelaskan dulu di sini. Kendalanya orang tua kan saat menjelaskan dan pendampingan. Kemudian, anak-anak melaporkan hasilnya di WhatsApp," ungkapnya. 

Siswa lebih disiplin mengerjakan tugas

Dengan tatap muka, Fitri merasa lebih nyaman dalam mengajar.

"Sebagai guru ada kepuasan tersendiri, tersalurkan. Kalau fasilitas internet di sekolah sebenarnya tidak terkendala. Tapi nurani guru itu tidak puas. Tiap hari berangkat, di kelas sendiri, Google Meet, rasanya kurang. Kami jelaskan pakai Power Point, tapi ada anak yang main kamera, ada suara orang tua yang ngobrol," bebernya.

Selain itu, menurutnya, pembelajaran tatap muka terbatas bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menjaga pendidikan karakter siswa.

Yang mana hal itu tidak bisa dicapai lewat pembelajaran daring. 

"Pemerintah katanya mencanangkan pendidikan karakter, andai online tidak bisa terbentuk. Lalu tanggung jawabnya (siswa) beda. Kalau tatap muka begini tugas itu mereka kerjakan semua. Salat misalnya, mereka lihat catatan saya tiap hari. Oh berarti saya itu dicatat. Kalau online hanya jawab ya ya ya, padahal tidak dikerjakan," tandasnya. (uti) 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved