Breaking News:

Wakil Dekan FKH UGM Sebut Swasembada Sapi di Indonesia Belum Optimal

Wakil Dekan Bidang Akademik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Agung Budianto menyatakan, pencapaian swasemada sapi di Indonesia

Tangkapan Layar
Webinar Siapa yang Bertanggungjawab pada Kebuntingan Sapi di Indonesia? 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wakil Dekan Bidang Akademik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Agung Budianto menyatakan, pencapaian swasemada sapi di Indonesia belum optimal.

Pasalnya angka impor daging sapi dari luar negeri masih tinggi.

"(Kebijakan) Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging adalah impor," tutur Agung dalam webinar Siapa yang Bertanggungjawab pada Kebuntingan Sapi di Indonesia, Minggu (3/1/2021).

Baca juga: Begini Pengakuan Ekspatriat di Arab Saudi Setelah Disuntik Vaksin Covid-19

Baca juga: Imbas Harga Kedelai Impor Naik, Mulai Mogok Produksi, Stok Tahu Tempe Berkurang, Hingga Tuntutan

Masalah tersebut timbul karena program Kementrian Pertanian UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) tidak berjalan dengan baik.

Program tersebut seharusnya dapat mempercepat peningkatan populasi sapi dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Namun disebabkan beberapa hal, sebut saja seperti petugas inseminasi buatan (IB) atau biasa disebut kawin suntik, tidak memiliki manajemen, lisensi, dan mengikuti prosedur yang tepat.

Adapun dari sisi peternak, tidak memiliki pengetahuan tetang deteksi dini birahi pada hewan ternak, dan penyakit reproduksi.

Selain itu tidak ada pengecekan berkala pada sperma pejantan, untuk mencegah kegagalan kebuntingan.

Baca juga: Materai Rp 10.000 Mulai Berlaku Awal Tahun Ini, Dokumen Bermaterai Menjadi Rp 5 Juta

Baca juga: Harapan Bupati Kulon Progo Sutedjo di Tahun 2021, Mulai Infrastruktur Hingga Pertanian

Pakar bioteknologi reproduksi terapan, Prof Iman Supriatna menyarankan agar para petugas yang melakukan inseminasi, harus memiliki pengetahuan dan keterampilan pemeriksaan lengkap melalui prosedur diagnosa dan tindakan medis.

Hal ini dapat membantu mendukung menghasilkan laju kebuntingan yang memuaskan.

"Dalam pelaksanaan kawin suntik (IB), juga diperlukan dokter hewan sebagai pendamping atau supervisi," tandasnya.

Upaya tersebut diharapkan Iman, supaya ada pemeriksaan kebuntingan (PKB) pada hewan, pengecekan pada kualitas sperma pejantan. (tsf)

Penulis: Taufiq Syarifudin
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved