Pilkada Serentak 2020
Kisah Petugas KPPS di Mlati Sleman Datangi Rumah Warga yang Sakit Mengenakan APD Lengkap
Petugas KPPS yang mendapat tugas itupun harus mengenakan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dengan protokol kesehatan ketat
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Gelaran Pilkada serentak 2020 tahun ini memang menjadi agenda pesta demokrasi yang berbeda dari biasanya.
Pasalnya, Pilkada serentak 2020 kali ini diselenggarakan di tengah masa pandemi Covid-19 yang masih terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Protokol kesehatan yang ketat pun diterapkan dalam pelaksanaan Pilkada 2020 kali ini, di antara wajib memakai masker, menghindari kerumunan, wajib mencuci tangan, serta sejumlah aturan protokol kesehatan ketat lainnya.
Satu di antaranya yang juga berbeda adalah petugas KPPS yang mendatangi pasien Covid-19, ataupun pasien yang menjalani isolasi di rumah.
Baca juga: BREAKING NEWS : Kustini-Danang Deklarasi Kemenangan versi Quick Count Internal Pilkada Sleman 2020
Baca juga: KPU Sleman Jemput Bola, Pasien Covid-19 Difasilitasi untuk Gunakan Hak Pilih di Pilkada
Petugas KPPS yang mendapat tugas itupun harus mengenakan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dengan protokol kesehatan yang ketat pula.
Seperti juga yang terjadi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Petugas KPPS dari TPS 036 Dusun Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati Sleman, rela mendatangi warga yang sakit agar bisa menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada Sleman 2020.
Petugas mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap dan mendatangi rumah warga yang sakit.
Singgih Kurniawan, anggota KPPS yang bertugas mendatangi rumah warga, mengatakan bahwa pihaknya mencatat ada dua orang warga yang sakit dan meminta petugas untuk datang ke rumah warga tersebut.
“Ini permintaan dari yang sakit, dia mau untuk didatangi. Sesuai aturan kalau mereka tidak mau didatangi maka dianggap tidak memilih. Tapi kalau mereka meminta untuk didatangi maka kami akan fasilitasi,” ungkapnya, Rabu (9/12/2020).
Adapun dua orang yang sakit tersebut masih tinggal dalam satu rumah.
Saat ditanya bagaimana kondisi warga tersebut, Singgih mengatakan bahwa satu orang merupakan lansia dan sakit dan seorang lagi adalah perempuannya yang juga mengalami sakit.
“Belum tahu sakitnya apa, maka kita mengenakan baju hazmat sesuai protokol kesehatan yang diterapkan,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua KPPS TPS 36, Purnomo Widyantoro, membenarkan hal tersebut.
Ia mengatakan bahwa alat APD berupa baju hazmat dan perlengkapan lainnya sudah disediakan oleh KPU.
"Kita tidak tahu sakitnya apa, dan ini untuk berjaga-jaga untuk keamanan anggota KPPS. Dan alat yang tadi dibawa, setelah kembali juga disemprot desinfektan,” ungkapnya.
Baca juga: Kustini-Danang Klaim Kemenangan di Pilkada Sleman 2020, Kemenangan Kami adalah Kemenangan Warga
Baca juga: Ini Tantangan dan Pesan Sri Purnomo untuk Bupati Sleman Terpilih
Selain dua orang warga yang sakit tersebut, Purnomo juga mengatakan bahwa anggota juga sempat melayani pencoblosan di dalam kendaraan, mobil.
“Ada yang datang tapi tidak bisa ke lokasi pencoblosan karena pakai kursi roda, maka yang bersangkutan nyoblos di mobil dan petugas mendatangi ke mobil. Petugas tidak mengenakan APD karena beliau stroke, dan bukan karena covid-19,” jelasnya.
Pun demikian, saat ditanya apakah di wilayah TPS 36 ada warga yang melakukan isolasi mandiri, Purnomo menjelaskan bahwa hal itu tidak ada.
Pasien Isolasi di Asrama Haji Gunakan Hak Pilih
Di tempat lain, TPS di Asrama Haji yang dikhususkan untuk isolasi pasien Covid-19 juga menyelenggarakan pencoblosan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, Rabu (9/12/2020).
Terdapat 60 orang yang merupakan jumlah gabungan dari pasien, tenaga kesehatan (nakes), relawan menggunakan hak pilihnya.
Sementara untuk jumlah pasien isolasi di Asrama Haji berjumlah 76 orang dan memang tidak semua memiliki hak pilih.
Bupati Sleman, Sri Purnomo, mengatakan bahwa proses pemungutan suara di TPS di Asrama Haji Yogyakarta sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Seluruh petugas berasal dari tenaga kesehatan yang bertugas di Asrama Haji Yogyakarta dan mengenakan APD lengkap seperti baju hazmat, face shield, sarung tangan dan masker.
Sementara alur pencoblosan sudah sesuai dengan Protokol Kesehatan yakni sebelum memasuki TPS, pemilih diwajibkan menggunakan masker dan diharuskan mencuci tangan, kemudian dilakukan pengecekan suhu dan diberikan sarung tangan plastik.
Usai melakukan pencoblosan pemilih membuang sarung tangan plastik, dan diberi tinta di jarinya sebagai tanda telah menggunakan haknya.
"Setelah nyoblos, kertasnya tidak dilipat, kertasnya ditinggalkan di situ (bilik suara). Oleh petugas kertas suara diambil dan dimasukkan di dalam plastik dan tetap tidak dilipat, baru dimasukkan ke kotak suara," jelasnya saat memantau jalannya pemungutan suara di Asrama Haji.
"Jadi protokol sangat ketat, dan ini bagian dari pelayanan demokrasi berjalan dengan bagus. Harapannya yang sehat tetap sehat dan yang sakit segera sembuh," imbuhnya.
Baca juga: Calon Wakil Bupati Sleman Agus Choliq Sungkem pada Ibu Sebelum Nyoblos
Baca juga: KPU Sleman Optimis Penuhi Target Partisipasi Pemilih Pilkada 80 Persen
Terkait dengan pemilih yang melakukan isolasi mandiri di rumah, Sri Purnomo menjalaskan bahwa akan ada petugas KPPS yang akan jemput bola sesuai dengan protokol kesehatan yang sama seperti pasien yang berada di Asrama Haji Yogyakarta.
Secara umum, Sri Purnomo menyatakan bahwa jalannya pemungutan suara di Kabupaten Sleman telah berjalan dengan lancar, sesuai dengan protokol kesehatan dan tidak ada kerumunan.
"Tapi hilir mudik, (pemilih) datang pergi dan mudah-mudahan tidak terjadi penularan secara lokal dari pilkada ini," ujarnya.
( tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petugas-datangi-warga-yang-sakit-dengan-mengenakan-apd.jpg)