Letusan Merapi 1994
Inilah Kesaksian Fotografer Saat Letusan Merapi 22 November 1994 Menyapu Turgo dan Kaliurang Barat
Dedi H Purwadi, saat itu fotografer surat kabar Harian Bernas, menembus Kaliurang yang sebagian sudah diblokir dan warganya mengungsi ke Pakem
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
“Kurang dari sejam mendaki, saya sampai di pintu masuk area Pos Pengamatan Merapi Plawangan (1.267 mdpl). Saya lihat kondisi vegetasi sekitar masih utuh, tidak terdampak letusan,” lanjut pemilik merek Batik Jolawe ini.
Cerita bersama empat petugas yang bertahan di Pos Plawangan sudah ia beberkan di awal kisah ini. Mereka segera berbagi cerita. Dedi mencari tahu apa yang terjadi, mendengar pengalaman mereka di menit-menit menegangkan.
Baca: Cerita Letusan Merapi 22 November 1994 yang Menerjang Turgo
“Saya melihat, meski mereka masih bisa tertawa, ada kekhawatiran di wajah mereka tentang keselamatan diri mereka. Betapa tidak, mereka berada pada posisi paling dekat ke Merapi, sementara orang-orang di bawah sana sudah mengungsi,” urainya.
Kekhawatiran itu menurut Dedi Purwadi manusiawi. Apalagi, menurut Panut, saat awal-awal letusan sempat terjadi hembusan gas menghantam kaca pos pengamatan hingga pecah. Mereka pun, walau akrab dengan Merapi, mengaku tetap takut.
Menjelang Ashar, keempat petugas Pos Plawangan, dan Dedi Purwadi turun. Sebelum meninggalkan Plawangan, Dedi Purwadi memotret empat petugas itu berlatar belakang Merapi yang masih meluncurkan gumpalan-gumpalan awan panas.
“Inilah saat terakhir mereka bertugas di Pos Plawangan. Sejak itu Pos Plawangan berakhir masa tugasnya setelah hamper 40 tahun beroperasi di garis terdepan.
Beriringan mereka menuruni jalan setapak bukit Plawangan menuju Kaliurang. Dedi melanjutkan perjalanan ke Kota Yogya.
Satu kilometer dari pertigaan Pusdik Wara, Dedi bertemu wartawan Jawa Pos, dan ia memperoleh tumpangan sepeda motor ke kantor.
Sepanjang perjalanan turun ke kota, Dedi berulangkali menengok kea rah Merapi. Gunung itu ternyata tertutup rapat awan.
Tiba di kantor, Dedi Purwadi langsung mencetak foto, menyerahkan foto-fotonya ke Redaktur Pelaksana. Teman lain menyerahkan foto-foto yang mereka dapatkan di rumah sakit.
Dokumentasi peristiwa bersejarahitu hingga sekarang masih disimpannya sangat rapi.
“Sebagian wajah garang itu telah saya rekam dan simpan hingga hari ini, 26 tahun kemudian,” ujar Dedi Purwadi.(Tribunjogja.com/xna)