Letusan Merapi 1994

Inilah Kesaksian Fotografer Saat Letusan Merapi 22 November 1994 Menyapu Turgo dan Kaliurang Barat

Dedi H Purwadi, saat itu fotografer surat kabar Harian Bernas, menembus Kaliurang yang sebagian sudah diblokir dan warganya mengungsi ke Pakem

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
DOK | DEDI H PURWADI
Suramto terus mencatat perkembangan visual letusan Merapi, di teras Pos Plawangan, Kaliurang 

“Keberuntungan itu saya peroleh berbekal informasi yang sangat minim, dan tanpa alat telekomunikasi mobile pada saya,” ujar jurnalis yang kini menekuni dunia membatik.

Mendapat Kabar Merapi Meletus

Suramto terus mencatat perkembangan visual letusan Merapi, di teras Pos Plawangan, Kaliurang
Suramto terus mencatat perkembangan visual letusan Merapi, di teras Pos Plawangan, Kaliurang (DOK | DEDI H PURWADI)

Telepon seluler menurutnya baru segelintir orang yang punya. Smartphone belum ada. Dedi pertama menerima kabar Merapi meletus dari sekretaris di kantor, begitu ia tiba di ruang kerja.

“Ded, Merapi meletus,” kata Dedi menirukan kata-kata sang sekretaris redaksi. Hanya itu informasinya. Tentang seperti apa, ke arah mana dan di sisi mana letusannya, sekretaris itu mengaku tak memiliki informasi.

“Dia memberi tahu saya karena tahu saya cukup kerap meliput Merapi,” lanjut Dedi. Ia lalu berusaha menelepon kantor Pengamatan Gunung Merapi, yang saat ini jadi BPPTKG Yogyakarta. Yang terdengar hanya nada sibuk.

“Saya menelepon Pos Pengamatan Plawangan. Sama. Nada sibuk yang terdengar. Keputusan saya: langsung ke Kaliurang. Tak ada atasan yang bisa saya lapori, karena mereka belum datang,” ungkapnya.

Dedi bergegas ke Terminal Terban, mencari kendaraan umum Yogya-Kaliurang. Mobil kantor sedang dipakai liputan ke tempat lain.

Di angkutan umum jurusan Kaliurang, Dedi tidak mendapat informasi memadai. Menurut pengemudi, letusan Merapi menghantam Dusun Turgo. Keterangan lain, warga Kaliurang sudah mengungsi.

Turgo Disapu Awan Panas

Di sepanjang perjalanan, ia memperhatikan terus arah utara, yaitu posisi Merapi. Dalam pandangan Dedi, Merapi sama sekali tak terlihat, padahal hari cerah.

Sampai di pertigaan Pusdik Wara, Kaliurang , sekarang ada monument Udang, jalan sudah dipalang bambu. Ada dua atau tiga petugas berjaga. Dari petugas, Dedi menerima informasi dan konfirmasi benar Dusun Turgo tersapu awan panas.

Ia segera jalan kaki ke arah barat Kaliurang. Tujuan ke Dusun Turgo menyeberang Kali Boyong. “Saya sudah hapal jalur ini. Tapi, begitu sampai di Kali Boyong, yang saya hadapi adalah hamparan material letusan yang masih berapi dan mengepul di sana-sini,” katanya.

Dedi mengurungkan niat menyeberang. Tak ada pilihan baginya, kecuali naik ke bukit Plawangan. Itu artinya saya harus balik ke timur, kemudian berjalan lagi sekitar dua kilometer, dilanjutkan mendaki bukit Plawangan sekitar setengah jam.

Masalahnya, saat itu kondisi puncak Plawangan tidak ia ketahui. “Saya hanya tahu saat itu sisi selatan Plawangan, yaitu kawasan wisata Kaliurang aman, tak ada abu terlihat di sini, kecuali di sisi barat di tepi Kali Boyong,” lanjut Dedi.

Memutuskan Naik ke Pos Plawangan

Letusan Merapi, Selasa 22 November 1994 diabadikan dari Pos Plawangan, Kaliurang, Sleman
Letusan Merapi, Selasa 22 November 1994 diabadikan dari Pos Plawangan, Kaliurang, Sleman (DOK | DEDI H PURWADI)

Ia mencoba mencari informasi lagi ke Kantor Telepon Kaliurang. Mencoba menelepon Pos Plawangan. Lagi-lagi, yang terdengar nada sibuk. Tidak ada pilihan baginya, kecuali memutuskan langsung naik ke Plawangan.

Masalah sepele tapi penting, muncul. Dedi tak membawa perbekalan minum. Saat itu ia berpikir kemungkinan di Tlogo Putri masih ada warung buka. Ternyata, Tlogo Putri, walaupun tak terimbas bencana, bagai kota mati.

Beruntunglah ia mendapati botol air kemasan berisi seperempatnya tergolek di jalan dekat lapak buah. “Saya periksa dan saya yakin air ini masih aman diminum, lalu saya bawa sebagai bekal mendaki,” ungkap alumnus UGM ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved