Dua Skenario Kemungkinan Erupsi Gunung Merapi, Ini Penjelasan BPPTKG Yogyakarta

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, mengungkapkan seismisitas Gunung Merapi saat ini telah melampaui menjelang munculnya kubah lava 2006

Editor: Muhammad Fatoni
KOMPAS.com/LABIB ZAMANI
Gunung Merapi terlihat dari Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (10/11/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ada dua skenario terkait kemungkinan erupsi Gunung Merapi, bila berapi gunung teraktif di Indonesia tersebut meletus.

Hal tersebut berdasarkan prediksi dan hasil pemantauan data-data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, mengungkapkan seismisitas Gunung Merapi saat ini telah melampaui menjelang munculnya kubah lava 2006.

Namun, kondisi tersebut dikatakan masih lebih rendah daripada kondisi menjelang erupsi Gunung Merpai di tahun 2010.

“Kondisi saat ini per 11 November 2020 pukul 15.00 WIB, rata tiga hari, gempa VA 0, VB 33, MP 341, LF 2, dan RF 45. Deformasi teramati dari EDM Babadan 12cm/hari,” ujar Hanik dalam konferensi pers kondisi terkini Siaga Merapi, Rabu (11/11/2020).

Baca juga: Jalur Evakuasi Merapi di Klaten Diminta Dikosongkan dari Truk Angkut Golongan C

Baca juga: Dengar Suara Gemuruh dari Gunung Merapi, Warga Desa Klakah Minta Dievakuasi ke Barak Pengungsian

Hanik menyebutkan, ancaman bahaya maksimal yang dapat terjadi ialah ketika laju ekstrusi meningkat mencapai 100.000 m3/hari dan kubah lava memenuhi kawah mencapai volume 10 juta m3.

Ia melanjutkan, jika 50 persen dari kubah lava tersebut runtuh, maka akan menghasilkan awan panas ke Kali Gendol sejauh 9 km, Kali Opak 6 km, dan Kali Woro 6 km.

“Saat ini arah guguran lava dominan ke arah Kali Senowo, Kali Lamat, dan Kali Gendol dengan jarak maksimal 3 km di Kali Lamat,” ungkap Hanik.

Hanik menerangkan lava adalah magma yang berada di permukaan.

Adapun guguran lava yang semakin sering terjadi beberapa hari terakhir merupakan guguran dari sisa-sisa lava atau material lama, semisal hasil erupsi 1948 dan 1988.

Visual Gunung Merapi saat dilihat dari Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Minggu (8/11/2020).
Visual Gunung Merapi saat dilihat dari Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Minggu (8/11/2020). (TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan)

Menurut Hanik, indikator data pemantauan Gunung Merapi telah melampaui kondisi siaga 2006, sehingga BPPTKG memiliki kemungkinan dua skenario, yaitu skenario ekstrusi magma dengan cepat dan skenario erupsi eksplosif.

“Keduanya berimplikasi estimasi waktu jeda yang pendek sampai dengan kejadian erupsi yang membahayakan penduduk. Saat ini data pemantauan baik seismik maupun deformasi terus meningkat menunjukkan dekatnya waktu erupsi,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjutnya, jika terjadi erupsi eksplosif, kemungkinan tidak sebesar erupsi 2010.

Hal ini didasarkan pada tidak terjadinya kegempaan dalam, menunjukkan tidak ada tekanan berlebihan di dapur magma.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved