Dua Skenario Kemungkinan Erupsi Gunung Merapi, Ini Penjelasan BPPTKG Yogyakarta
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, mengungkapkan seismisitas Gunung Merapi saat ini telah melampaui menjelang munculnya kubah lava 2006
Intensitas Guguran Meningkat
BPPTKG) Yogyakarta melaporkan adanya suara guguran Gunung Merapi sebanyak 6 kali, pada Rabu (11/11/2020) dalam rentang waktu antara pukul 12.00-18.00 WIB.
Suara guguran yang terdengar tersebut dengan kekuatan lemah hingga sedang.
Pada periode yang sama, secara visual gunung kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Sedangkan, asap kawah tidak teramati.
Secara meteorologi, cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah barat.
Suhu udara berkisar antara 17-23 °C, kelembaban udara 56-73 persen, dan tekanan udara 627-688.4 mmHg. Volume curah hujan 15 mm per hari.

Kegempaan yang terjadi dalam periode tersebut di antaranya, 19 gempa guguran, 13 gempa hembusan, 94 gempa hybrid/fase banyak, dan 9 gempa vulkanik dangkal.
Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, mengungkapkan, guguran lava yang semakin sering terjadi dalam beberapa hari terakhir dominan mengarah ke Kali Senowo, Kali Lamat, dan Kali Gendol.
"Dengan jarak maksimal (yang pernah terjadi) 3 km di Kali Lamat,” ungkap Hanik.
Hanik menerangkan guguran lava yang semakin sering terjadi tersebut merupakan guguran dari sisa-sisa lava atau material lama erupsi Gunung Merapi, semisal hasil erupsi 1948 dan 1988.
"Lava adalah magma yang ada di permukaan. Untuk kasus Merapi saat ini lava atau kubah lava baru belum muncul di permukaan," ucapnya.
Baca juga: Pengungsi Merapi di Klaten Bakal Jalani Pemeriksaan Covid-19
Baca juga: Sri Sultan HB X Minta Kepastian BPPTKG Soal Potensi Letusan Gunung Merapi
Daerah Rawan Bahaya
1. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Kabupaten Sleman
Kecamatan Cangkringan