Status Siaga Gunung Merapi

Sri Sultan HB X Minta Kepastian BPPTKG Soal Potensi Letusan Gunung Merapi

Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta BPPTKG punya analisis kepastian yang riil soal potensi ancaman lava Merapi.

Tayang:
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat meninjau kesiapan perlengkapan dan personel dalam apel siaga menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob Baciro. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta BPPTKG punya analisis kepastian yang riil soal potensi ancaman lava Merapi.

Sultan menyebut hal itu penting guna mengambil upaya yang komprehensif terhadap potensi bencana alam. 

"Saya ingin kepastian dari BPPTKG, kalau lava meleleh kan itu nggak ada masalah. Tapi kalau pengalaman 2010, itu kan meletus ke atas. Dan kalau itu letusannya setinggi 1.000 -1500 meter saja batunya kan ikut turun," kata Sultan, usai apel siaga persiapan menghadapi bencana alam, Rabu (11/11/2020) di Mako Brimob.

Baca juga: Buntut Perobohan Bangunan Cagar Budaya Kulon Progo, Dewan Tanyakan Pihak yang Bertanggung Jawab

Baca juga: UPDATE Covid-19 Kulon Progo : Tambah 2 Pasien Positif dan 1 Probable Meninggal

Sultan melanjutkan, letusan larva itu tidak hanya berdampak pada kawasan di seputar Merapi saja, melainkan bisa sampai ke Kota Yogyakarta jika angin bertiup cukup signifikan. 

"Batu yang berat ya bisa saja cuman terlempar di sekitar Merapi, tapi kalau yang halus kan bisa sampai Kota Yogya kalau anginnya ke selatan. Kan tidak mungkin hanya ke tenggara karena meletusnya ke atas," jelas dia. 

Sejauh ini, menurut Sultan laporan dari BPPTKG larva belum tampak di sekitar kubah Merapi.

Pasalnya, lava itu akan muncul jika ada dorongan gas dari bawah yang cukup besar hingga kemudian menyembur. 

"Berarti gasnya ini kan belum maksimal. Kemarin kan keluar gasnya. Jadi ya radak gembos. Semoga gembos saja gitu. Tapi kita kan tidak bisa memperkirakan," lanjut dia. 

"Nanti tergantung perkembangan kawah itu per harinya tambahnya berapa sentimeter. Kalau sudah siaga gini kan terus cepat," sambung dia. 

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Serahkan Dana Penyertaan Modal Rp 20 Miliar Kepada BPD DIY

Baca juga: Kapolda Jateng Tinjau Pengungsi Merapi, Sebut Hewan Ternak Ditempatkan di Lokasi Khusus

Sultan juga meminta instansi kebencanaan maupun personel yang terlibat di dalamnya untuk belajar dari pengalaman erupsi Merapi pada 2010 lalu, baik penanganan maupun rehabilitasinya. 

Misalnya saja penanganan terhadap korban yang terkena guguran larva.

Sultan meminta unit SAR yang menjadi garis terdepan dalam evakuasi korban untuk melakukan langkah-langkah awal terhadap korban itu sebelum mendapat pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat. 

"Kan bisa dibayangkan sepanas apa itu kalau tekena, itu biasanya minimal 800° celsius. Bagaimana yang dibopong itu tidak berteriak," ujar Sultan. 

Hal lain yang perlu pula dipersiapkan menurut Sultan adalah material yang aman terhadap panas lava saat melakukan evakuasi dan menyisir daerah terdampak guguran.

Relawan disebut dia mesti memakai sesuatu yang aman dan tahan panas sebagai alas. 

"Biasanya itu digunakan papan, karena kalau disitu ada larva tidak mungkin dipijak menggunakan sepatu, bisa meleleh nanti. Jadi persiapan-persiapan seperti itu jadi sangat vital. Sehingga untuk menolong bisa kita lakukan," ujar dia. (jsf)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved