Human Interest Story

Berkenalan dengan Wanda, Siswi SD yang Belajar Daring dari Tambang Pasir Lereng Merapi

Sejak pandemi COVID-19, proses belajar mengajar dilakukan secara daring, sehingga siswa bisa mengakses materi pelajaran dari rumah.

Tayang:
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Christi Mahatma Wardhani
Siswa kelas V SD Kepuharjo, Wanda Hera Kurniawati ditemani ibunya, Sri Hartati belajar daring di tambang pasir Kali Gendol, Rabu (11/11/2020) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejak pandemi COVID-19, proses belajar mengajar dilakukan secara daring, sehingga siswa bisa mengakses materi pelajaran dari rumah.

Namun berbeda dengan Wanda Hera Kurniawati (10). 

Wanda sapaan akrabnya, tidak belajar di rumah, melainkan di pertambangan Kali Gendol, Kepuharjo, Cangkringan.

Konsentrasinya tidak terpecah, meskipun belajar di tempat yang tidak nyaman. 

Aktivitas penambangan tidak membuat gadis cilik itu terganggu.

Truk dan mobil bak terbuka yang berlalu-lalang pun tidak dihiraukannya.

Matanya fokus pada layar ponsel ibunya.

Sesekali siswa kelas V tersebut mengusap layar ponsel yang mencatat di buku tulisnya. 

"Tetap bisa konsentrasi," katanya singkat di sela-sela belajar daring di penambangan Kali Gendol, Rabu (11/11/2020).

Baca juga: Peringatan Milad Pangeran Diponegoro ke 235 Digelar Daring

Baca juga: Sekda DI Yogyakarta Tanggapi Perubahan Jadwal Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro

Ibunya adalah seorang penambang pasir, sedangkan ayahnya merumput untuk membesarkan ternak yang dititipkan pada keluarganya.

Baik ayah maupun ibunya, tidak ada yang menemani siswi SDN Kepuharjo tersebut belajar.

"Di rumah tidak ada teman, semua bekerja, di rumah sendirian. Kemudian ikut ke kali (bersama ibunya),"sambungnya.

Minat belajar Wanda memang tinggi, ia selalu mendapat rangking 10 besar di sekolah.

Menjadi dokter adalah cita-citanya. Agar dapat menggapai cita-citanya, ia harus sedikit berjuang lebih keras. 

Bukan kali ini saja gadis cilik tersebut mengikuti ibunya ke lokasi tambang.

Ibu Wanda, Sri Sutarti (27) mengungkapkan sejak taman kanak-kanak Wanda sudah diajak ke lokasi. 

Sebagai ibu, Sri tak punya pilihan lain. Ia harus mendampingi putri semata wayangnya, di sisi lain ia juga harus bekerja membantu suaminya. 

"Sejak TK sudah diajak ke kali (Kali Gendol). Dia memang pengen ikut sendiri. Katanya nanti mamak repot. Jadi dia ikut ke kali sekalian untuk belajar daring,"ungkap warga Padukuhan Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan.

"Jadi biar bisa jalan dua-duanya, saya bisa bekerja dan Wanda juga bisa belajar daring. Kalau nanti Wanda bingung, ya saya ikut mendampingi. Mau tidak mau saya juga ikut belajar. Masa saya ngajari tapi nggak bisa, ya saya ikut belajar,"sambungnya.

Terbiasa bekerja di penambangan, bukan berarti ibu satu anak itu tidak takut akan bahaya Gunung Merapi.

Baca juga: Jemaah Umrah Harus Berumur 18-50 Tahun, ASITA DIY Sebut Peraturan Masih Sering Berubah

Baca juga: Polda DI Yogyakarta Bantu Polres Gunungkidul Ungkap Kasus Dugaan Pembunuhan di Patuk

Terlebih jaraknya dari puncak Gunung Merapi hanya sekitar 6 sampai 7 km. 

Pengalaman kelam pada erupsi Merapi 2010 pun masih membuatnya was-was. Rumahnya hancur tersapu awan panas. 

"Ya masih was-was, Wanda masih umur tiga bulan. Rumah hancur, tinggal pondasi (akibat erupsi 2010). Tetapi para penambang selalu membawa HT (handy talkie), jadi bisa memantau Merapi,"ujarnya. 

Meski begitu, ia tetapi harus tetap melakoni pekerjaannya. Pintar mengatur waktu, adalah strateginya agar bisa tetap mendampingi Wanda dan tetap bisa mencari nafkah.

"Menambang pasir dari pagi 05.30 hingga pukul 16.00. Ya bagaimana caranya supaya belajar daring tetap jalan, tetapi pekerjaan rumah tidak keteteran," tambahnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved