Peringatan Milad Pangeran Diponegoro ke 235 Digelar Daring
Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Putra Padi) bersama Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Korwil DIY
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Putra Padi) bersama Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Korwil DIY dan Ndalem Yudaningrat merayakan milad Pangeran Diponegoro yang ke-235, Selasa (10/11/2020) malam.
Peringatan dirayakan dengan menggelar pementasan wayang kulit Diponegoro secara daring.
Wayang menampilkan lakon Sang Kusuma Bangsa oleh dalang Ki Catur Kuncoro yang ikut dihadiri oleh sejumlah pihak diantaranya Ketua IKPNI Korwil DIY, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudaningrat serta Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Ibnu Bintang Setiawan.
GBPH Prabukusumo mengatakan, Pangeran Diponegoro dan pahlawan yang lain diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk membangkitkan jiwa nasionalisme di Indonesia.
Baca juga: Sekda DI Yogyakarta Tanggapi Perubahan Jadwal Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro
Baca juga: ASITA DIY : Penerapan Protokol Kesehatan Bisa Jadi Promosi yang Bagus untuk Pariwisata
"Harapannya, generasi muda nusantara betul-betul bisa saling mengerti, memahami, menghormati dan menghargai sesama suku, agama, ras, adat istiadat dan tradisi budaya," ujarnya.
Ketua Patra Padi, Ki Roni Sadewa menyebut, wayang Diponegoro tergolong unik dan khusus.
Tokoh-tokohnya berbeda. Pangeran Diponegoro digambarkan memakai surban putih, Sultan HB II memakai mahkota, kemudian Sentot Prawirodirjo mengenakan busana Jawa menunjukkan sosok panglima perang.
Meski sudah dipentaskan di berbagai tempat pihaknya ingin wayang tersebut bisa tampil pula di Kampus Universitas Diponegoro (Undip) maupun Kodam IV Diponegoro.
Dua institusi besar yang menyandang nama Diponegoro itu belum pernah digunakan untuk pementasan wayang ini.
Baca juga: Jemaah Umrah Harus Berumur 18-50 Tahun, ASITA DIY Sebut Peraturan Masih Sering Berubah
Baca juga: Polda DI Yogyakarta Bantu Polres Gunungkidul Ungkap Kasus Dugaan Pembunuhan di Patuk
Ketua panitia acara, Rahardi Saptata Abra menyampaikan, Sang Kusuma Bangsa merupakan lakon baru yang diambil dari Babad Diponegoro, berisi gambaran cerita babak-babak akhir perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda.
Berdasarkan catatan sejarah, Belanda tidak mampu mengalahkan perlawanan Pangeran Diponegoro dan pasukannya pada perang yang berlangsung lima tahun (1825-1830) hingga membuat penjajah bangkrut.
"Lakon Sang Kusuma Bangsa juga menggambarkan secara detail penangkapan Diponegoro di Magelang. Jenderal De Kock licik dan berkhianat, berpura-pura mengajak berunding tetapi justru melakukan penangkapan," jelasnya. (jsf)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ki-catur-kuncoro.jpg)