Berbatasan Dengan Kota, Pemkot Yogya Antisipasi Sebaran Covid-19 dari Ponpes di Krapyak

Penularan Covid-19 yang terjadi di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Bantul, mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Azka Ramadhan
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penularan Covid-19 yang terjadi di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Bantul, mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta.

Pasalnya, lokasi lembaga pendidikan tersebut, berada di perbatasan wilayah Bantul dan Kota Yogyakarta.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ponpes di Krapyak Panggungharjo, Sewon, Bantul itu, sudah menerapkan pembatasan aktivitas setelah 131 penghuninya dinyatakan positif terpapar virus corona.

Mereka yang tertular, sebagian besar berstatus santri, maupun pengasuh pesantren.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, adanya sebaran virus yang masif di kawasan perbatasan tersebut, jelas wajib diantisipasinya.

Baca juga: Debat Putaran Kedua, Kustini-Danang Beri Solusi Pembangunan Ramah Lingkungan

Baca juga: Begini Kata Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan HB X Tentang Rekor Penambahan Kasus Covid-19 

Sejauh ini, ia telah memerintahkan Puskesmas terdekat, untuk mendeteksi potensi sebaran virus.

"Kita sudah minta pada Puskesmas terdekat agar antisipasi wilayah-wilayah di sekitarnya, perhatikan potensi sebaran yang bisa terjadi karena berbatasan dengan kota ya, dan kondisinya cukup padat penduduk di kawasan sana itu," ungkap Heroe, Jumat (6/11/2020) siang.

Tapi, sampai sejauh ini, pria yang juga menjabat Wakil Wali Kota Yogyakarta itu mengaku belum mendapatkan laporan terkait warga setempat yang terpapar corona, khususnya yang berasal dari sumber penularan di Ponpes Krapyak.

Namun, antisipasi tetap jadi hal wajib.

"Sampai sekarang kita belum mendapat laporan mengenai sebaran itu, kasus yang muncul di kota akhir-akhir ini juga tidak ada yang berasal dari situ," ujarnya.

Heroe menduga, tak adanya laporan mengenai warga yang tertular memang disebabkan oleh minimnya interaksi santri, dengan lingkungan di luar ponpes.

Terlebih, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, pengelola pesantren pun dipastikan menerapkan pembatasan yang ketat.

Baca juga: Begini Erupsi Gunung Merapi Yang Terjadi Tahun 2010, Erupsi Besar Terjadi, Menghasilkan Awan Panas

Baca juga: Tempat Pengungsian Warga Lereng Merapi di Magelang Dibuat Bersekat, Kapasitas 50 Persen

"Sebagian besar santri itu kan jarang keluar juga, interaksi dengan luar. Apalagi, di situasi pandemi seperti ini ya. Tetapi, semua tetap kita antisipasi," tandasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Pemkot akan mengambil sikap agar kejadian serupa tidak terjadi di ponpes-ponpes di Kota Yogyakarta.

Karena itu, seandainya akan memulai kembali kegiatan belajar mengajar, wajib mengkoordinasikannya dahulu dengan pemangku kepentingan.

"Beberapa ponpes memang pernah mengajukan verifikasi, kita juga sudah memberikan petunjuk. Ada dua, atau tiga ya, beberapa waktu lalu. Catatan kami, di sana harus dibentuk satgas Covid-19, untuk memastikan prokes diterapkan dengan baik," pungkasnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved