Breaking News:

Jelang Libur Panjang, Pemkot Yogya Operasikan Pos Scan QR Code Sementara 

Pemerintah Yogyakarta masih mengoperasionalkan pos scan QR code sementara, menyusul rusaknya peralatan imbas demo berujung ricuh

TRIBUNJOGJA.COM / Gaya Lufityanti
Petugas Jogoboro melakukan protokol kesehatan berupa cek suhu tubuh dan scan barcode pada pengunjung Malioboro, Sabtu (4/7/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Yogyakarta masih mengoperasionalkan pos scan QR code sementara, menyusul rusaknya peralatan imbas demo berujung ricuh pada 8 Okrober 2020 lalu.

Saat ini dua dari lima zona di kawasan Malioboro telah dilengkapi peralatan itu guna mencegah penyebaran Covid-19.

"Iya baru tadi sore dipasang, karena untuk persiapan saja menjelang libur panjang nanti," kata Koordinator Lapangan Jogoboro, Endro Jatmiko, Selasa (27/10/2020).

Sebelumnya, pos scan QR code yang berguna untuk melakukan pelacakan kepada pengunjung jika terdapat temuan kasus Covid-19 di kawasan itu didapati tidak beroperasi sejak 8 Oktober 2020 lalu.

Per hari ini, pengelola memasang pos scan QR code tersebut secara sementara sebagai persiapan menyambut masa libur panjang nanti.

"Baru zona satu dan zona dua yang dipasang. Di zona satu itu pengadaan baru dan zona dua kami pakai yang kemarin saja karena masih bisa diperbaiki," ucap Endro.

Baca juga: Polemik Pengelolaan Sampah di Yogya Tak Kunjung Usai, DPD RI Sebut Perlu Dievaluasi

Baca juga: Wali Kota Yogya Pastikan Segera Perbaiki QR Code yang Rusak di Kawasan Malioboro

Baca juga: BREAKING NEWS: Gunung Merapi Alami Gempa Guguran Malam Ini

Di masa normal baru, pemerintah setempat membagi Malioboro menjadi lima zona termasuk kawasan titik nol guna membatasi jumlah pengunjung dan mencegah penyebaran Covid-19.

"Jadi memang di zona lainnya kecuali titik nol masih kosong dan belum ada," katanya.

Di sisi lain, Endro menerangkan selain belum lengkapnya fasilitas pos scan QR code di kawasan itu, petuggas Jogoboro juga masih kekurangan alat pemindai suhu tubuh.

"Karena yang kemarin itu sudah rusak ya, ada 10 alat. Karena memang nggak sanggup kalau dipakai terus-menerus," ujarnya.

Untuk mengatasi itu, pihaknya akan menggunakan alat pemindai suhu tubuh dari personel pengamanan lain yang juga ikut berjaga di lapangan.

"Karena memang alat itu kami pakai sejak Maret dan belum ada penamnahan lagi sampai sekarang," ujarnya. (jsf)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved