Gunungkidul
Pranatacara Jawa, Tak Semudah Pembawa Acara Biasa
Rumitnya menjadi Pranatacara Jawa mungkin menjadi faktor penyebab tak banyak warga berusia muda yang melakoninya.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Ari Nugroho
Rumitnya menjadi Pranatacara Jawa mungkin menjadi faktor penyebab tak banyak warga berusia muda yang melakoninya.
Menurut Sigit, di Gunungkidul ini sebagian besar Pranatacara Jawa sudah berusia tua.
Pelatihan Pranatacara ini pun sebagai upaya regenerasi agar acara dengan tradisi Jawa tak lantas hilang. Selain itu, Sigit mengharapkan ada keterlibatan kaum hawa dalam profesi Pranatacara ini.
"Sebagian besar Pranatacara Jawa itu laki-laki. Kami ingin ada kaum perempuan yang terlibat, sebagai bentuk kesetaraan," katanya.
Murni Kurniawati (34) menjadi salah satu peserta perempuan dalam pelatihan tersebut. Ia hadir mewakili BUMDes Bejo Mandiri, yang mengelola destinasi wisata di Bejiharjo.
Ketertarikannya dalam pelatihan ini lebih pada kesadaran akan kemampuan diri. Sebab Murni masih merasa kurang memiliki pengetahuan mendalam tentang budaya Jawa.
• Dinas Kebudayaan DIY Gelar Lomba Pranatacara Basa Jawa
"Saya pun kalau jadi pembawa acara biasanya pakai bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Kalau bahasa Jawa malah jarang," kata warga Pedukuhan Gunungbang ini.
Secara pribadi, Murni berharap Pelatihan Pranatacara ini kembali dilakukan untuk tahap selanjutnya. Sebab ia merasa begitu banyak manfaat yang bisa didapatkan.
Ia mengatakan ilmu yang didapat dari pelatihan ini bisa diteruskan ke anak, keluarga, atau warga di lingkungannya. Sebab Murni juga ingin menjaga tradisi lokal daerahnya.
"Lewat ilmu dari pelatihan ini, saya kan bisa mengajarkan anak bagaimana tata cara bahasa Jawa halus yang benar," jelasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seorang-peserta-saat-tampil-mempraktekkan-bagaimana-menjadi-pranatacara-jawa.jpg)