Gunungkidul
Pranatacara Jawa, Tak Semudah Pembawa Acara Biasa
Rumitnya menjadi Pranatacara Jawa mungkin menjadi faktor penyebab tak banyak warga berusia muda yang melakoninya.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Meski duduk di kursi paling belakang, Triyono (26) tampak serius mengikuti Pelatihan Pranatacara pada Kamis (17/09/2020) ini. Pelatihan yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) GUNUNGKIDUL itu mengambil tempat di Balai Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo.
Pria asal Pedukuhan Grogol II, Bejiharjo ini mengaku sudah memiliki pengalaman sebagai pranatacara, atau yang lebih dikenal dengan istilah MC (Master of Ceremony). Namun, pelatihan yang ia ikuti kali ini berbeda dari pengalamannya.
"Kalau jadi MC untuk acara-acara dengan bahasa Indonesia gitu sudah beberapa kali, tapi untuk bahasa Jawa ya baru kali ini mengikuti," kata Triyono pada Tribun Jogja.
Masalahnya, Triyono menyebut bahasa yang digunakan saat menjadi Pranatacara khusus hajatan tradisional adalah Jawa halus. Sedangkan ia sebatas mengetahui bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.
• Upayakan Regenerasi, Pelatihan Pranatacara Jawa Digelar di Bejiharjo Karangmojo
Belum lagi dengan pakaian yang dikenakan. Ia harus mengenakan pakaian adat Jawa yang sopan dan khas Yogyakarta.
Seperti yang ia kenakan saat pelatihan itu.
"Saya akui masih pemula untuk jadi Pranatacara, apalagi kan tidak terbiasa dengan bahasa Jawa halus," kata mahasiswa yang nyambi jualan bakso ini.
Apa yang disampaikan Triyono tak jauh berbeda dengan pernyataan Kabid Bahasa, Sejarah, dan Sastra Disbud Gunungkidul, Sigit Pramudyanto.
Menurutnya, Pranatacara Jawa memiliki perbedaan dengan MC biasa.
Pertama, dari segi bahasa yang wajib menggunakan Jawa halus.
Sebab mereka akan memandu acara-acara yang sifatnya formal.
Seperti pernikahan, hajatan, supitan (sunatan), hingga lelayu (layatan), yang kental dengan adat Jawa.
Satu lagi yang perlu diperhatikan menurut Sigit adalah cara berpakaian, yaitu harus bergaya Yogyakarta.
Materi pelatihan pun turut menyampaikan jenis pakaian hingga kain yang benar untuk dikenakan para calon Pranatacara ini.
• Melihat Perubahan Iklim Lewat Film Pranata Mangsa
"Sebab ada jarik atau kain dengan motif tertentu yang boleh digunakan masyarakat, tidak boleh sama dengan motif bangsawan," jelas Sigit.
Rumitnya menjadi Pranatacara Jawa mungkin menjadi faktor penyebab tak banyak warga berusia muda yang melakoninya.
Menurut Sigit, di Gunungkidul ini sebagian besar Pranatacara Jawa sudah berusia tua.
Pelatihan Pranatacara ini pun sebagai upaya regenerasi agar acara dengan tradisi Jawa tak lantas hilang. Selain itu, Sigit mengharapkan ada keterlibatan kaum hawa dalam profesi Pranatacara ini.
"Sebagian besar Pranatacara Jawa itu laki-laki. Kami ingin ada kaum perempuan yang terlibat, sebagai bentuk kesetaraan," katanya.
Murni Kurniawati (34) menjadi salah satu peserta perempuan dalam pelatihan tersebut. Ia hadir mewakili BUMDes Bejo Mandiri, yang mengelola destinasi wisata di Bejiharjo.
Ketertarikannya dalam pelatihan ini lebih pada kesadaran akan kemampuan diri. Sebab Murni masih merasa kurang memiliki pengetahuan mendalam tentang budaya Jawa.
• Dinas Kebudayaan DIY Gelar Lomba Pranatacara Basa Jawa
"Saya pun kalau jadi pembawa acara biasanya pakai bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Kalau bahasa Jawa malah jarang," kata warga Pedukuhan Gunungbang ini.
Secara pribadi, Murni berharap Pelatihan Pranatacara ini kembali dilakukan untuk tahap selanjutnya. Sebab ia merasa begitu banyak manfaat yang bisa didapatkan.
Ia mengatakan ilmu yang didapat dari pelatihan ini bisa diteruskan ke anak, keluarga, atau warga di lingkungannya. Sebab Murni juga ingin menjaga tradisi lokal daerahnya.
"Lewat ilmu dari pelatihan ini, saya kan bisa mengajarkan anak bagaimana tata cara bahasa Jawa halus yang benar," jelasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seorang-peserta-saat-tampil-mempraktekkan-bagaimana-menjadi-pranatacara-jawa.jpg)