UPDATE Pantauan Aktivitas Terkini Gunung Merapi, Aktivitas Kegempaan hingga Potensi Erupsi

Pada pekan ini ini, yakni pada 4-10 September 2020, aktivitas Gunung Merapi secara garis besar relatif sama dengan minggu lalu.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
Dok BPPTKG
Analisis morfologi kawah melalui foto dari stasiun Deles3 tanggal 9 September terhadap 1 September 2020. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali melaporkan hasil pantauan terkini terkait aktivitas Gunung Merapi.

Pada pekan ini ini, yakni pada 4-10 September 2020, aktivitas Gunung Merapi secara garis besar relatif sama dengan minggu lalu.

Dalam minggu ini kegempaan Gunung Merapi tercatat 6 kali gempa Hembusan (DG), 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VTA), 9 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 63 kali gempa Fase Banyak (MP), 7 kali gempa Low Frekuensi (LF), 29 kali gempa Guguran (RF), dan 24 kali gempa Tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada minggu ini relatif sama dibandingkan minggu lalu," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Jumat (11/9/2020).

Skenario Bahaya Jika Terjadi Bencana Merapi

Bahaya Erupsi Merapi Tetap Mengarah ke Selatan dan Tenggara

Dari sisi deformasi, atau perubahan bentuk permukaan tubuh Gunung Merapi, dipantau dengan menggunakan electronic distance measurement (EDM) pada minggu ini menunjukkan adanya pemendekan jarak tunjam sekitar 2 cm.

Jarak tunjam EDM di sektor barat laut dari titik tetap BAB ke reflektor RB1 berkisar pada jarak 4.044,558 m hingga 4.044,574 m dan dari BAB ke reflektor RB2 pada kisaran 3.858,905 m hingga 3.858,922 m.

Baseline GPS Klatakan–Plawangan berkisar pada 6.164,06 m hingga 6.164,07 m.

"Pada minggu ini tidak dilaporkan terjadi hujan dan lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," tambah Hanik.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Dr Hanik Humaida dalam Webinar Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia dengan tema “Erupsi Besar Merapi Tahun 2010: Sebuah Refleksi di Masa Pandemi”, Jumat (11/9/2020).
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Dr Hanik Humaida dalam Webinar Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia dengan tema “Erupsi Besar Merapi Tahun 2010: Sebuah Refleksi di Masa Pandemi”, Jumat (11/9/2020). (Istimewa / tangkapan layar)

Sementara, secara visual cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sedangkan siang hingga sore hari berkabut.

Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah.

"Tinggi asap maksimum 200 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Selo pada 10 September 2020 pukul 16.45 WIB," ungkap Hanik.

Ia melanjutkan, analisis morfologi area kawah berdasarkan foto dari sektor tenggara tidak menunjukkan adanya perubahan morfologi kubah.

Volume kubah lava berdasarkan pengukuran menggunakan foto udara dengan drone pada 26 Juli 2020 sebesar 200.000
m3.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental tersebut, Hanik menerangkan, dapat disimpulkan bahwa kubah lava saat ini dalam kondisi stabil.

Warga Tunggularum Sleman Belajar Hadapi Bencana Merapi

BPBD DIY : Simulasi Penanggulangan Erupsi Merapi Jadi Antisipasi Terjadinya Bencana Turunan

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved