Bahaya Erupsi Merapi Tetap Mengarah ke Selatan dan Tenggara

Tenaga ahli BPPTKG Yogyakarta Ir Dewi Sri Sayudi mengingatkan, bahaya terbesar Merapi tetaplah awan panas.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Hari Susmayanti
Tribunjogja/Setya Krisna Sumargo
Kepsyeb Drs Subandriyo MSi, mantan Kepala BPPTK Yogyakarta memaparkan materi perkembangan terkini aktivitas Merapi di Balai Pertemuan Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, Kamis (3/9/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tenaga ahli BPPTKG Yogyakarta Ir Dewi Sri Sayudi mengingatkan, bahaya terbesar Merapi tetaplah awan panas.

Arah bahaya paling besar juga tetap ke selatan/tenggara mengikuti bukaan kawah dan alur Kali Gendol. Meski muncul aktivitas baru di sektor barat daya dan barat.

Dua catatan penting itu disampaikan di acara Wajib Latih Penanggulangan Bencana (WLPB) di Balai Pertemuan Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Kamis (3/9/2020).

Untuk alasan itu semua usaha dilakukan pemerintah melalui BPPTKG Yogyakarta memantau aktivitas Merapi, langsung maupun menggunakan instrumen jarak jauh.

Pemantauan meliputi kegempaan, geo kimia, juga deformasi. Pemantauan visual dilakukan terus-menerus dari berbagai pos di sekeliling gunung.

"Semua penjuru dipantau, supaya diketahui jika ada perubahan atau peningkatan aktivitas," kata Dewi Sri di hadapan sekitar 50 warga mewakili tiap keluarga di dusun itu.

Letusan 22 Juni 2020 menurut Dewi Sri menimbulkan konsekuensi baru setelah erupsi meruntuhkan kubah lava sektor barat daya.

"Sejak kubah lava 1997 (barat daya) longsor, warga harus waspada. Potensi bahaya utama tetap searah bukaan kawah ke selatan/tenggara," tegasnya.

Warga Tunggularum Sleman Belajar Hadapi Bencana Merapi

Mantan Kepala BPPTK Yogyakarta Drs Subandriyo di sesi kedua memaparkan informasi peta Kawasan Rawan Bencana (KRB).

Subandriyo terlebih dulu menjelaskan sekaligus membandingkan dua peristiwa letusan besar Merapi, yaitu erupsi 1872 dan 2010.

Keduanya memiliki banyak persamaan. Letusan 1872 memiliki data dan catatan cukup baik di masa kolonial.

Namun keterbatasan teknologi membuat gejala awalnya belum terdeteksi sempurna. Letusan puncak terjadi 17-20 April 1872, didahulu erupsi pendahulu.

Kawah besar terbentuk arah hadap barat/barat daya. Seperti letusan 1872, erupsi 2010 juga ada letusan pendahuluan pada 26 Oktober.

Lalu fase puncak letusan tercatat antara 3-5 November 2010. Letusan besar itu membuka kawah yang arah hadapnya ke selatan/tenggara.

"Riwayat letusan ini memunculkan konsekuensi, dalam kurun 100 tahun ke depan arah letusan ke tenggara/selatan," urai Subandriyo.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved